Surabaya (Antara Bali) - Presiden Joko Widodo mengatakan kenaikan harga beras beberapa waktu lalu sudah diperkirakannya akibat permainan spekulan di pasar beras.

"Desember ke Januari ada usul ke saya posisi stok beras bahaya, kita harus impor. Sebentar saya cek dulu lalu saya putuskan ini masih berani sampai panen raya, yang terjadi spekulasi harga beras jadi naik, ini risiko yang harus diambil saya jadi tidak populer," kata Presiden Jokowi di Masjid Nasional Al-Akbar Kota Surabaya, Jumat malam.

Presiden di hadapan sekitar 2.000 anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sedang merayakan Hari Lahir ke-55 dan Muktamar Pergerakan mengatakan sudah bertahun-tahun Indonesia menjadi importir 3,5 juta ton beras setiap tahunnya.

Oleh karena itu, pada akhir tahun lalu ia mengambil risiko untuk menyetop impor meski paham akan dampak kenaikan harga yang pasti akan terjadi.

"Kalau impor, petani kita jadi malas berproduksi. Ini saya sering sulit jelaskan tapi harus saya jelaskan secara gamblang, kalau tidak impor harga naik kalau impor petani jadi tidak rajin berproduksi," katanya.

Menurut Jokowi, hal yang sama juga terjadi pada komoditas pertanian strategis yang lain seperti jagung dan kedelai.

"Perlu perubahan total cara-cara kita berproduksi," katanya.

Pada kesempatan itu Presiden menyampaikan beberapa isu termasuk soal pengalihan subsidi BBM, pemberantasan penyalahgunaan narkoba, hingga meredam radikalisme dan terorisme. (WDY)

Pewarta: Oleh Hanni Sofia Soepardi

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015