Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Bali. Ketut Lihadnyana menginstruksikan kepada dinas atau instansi terkait untuk melakukan eksekusi langsung dalam program penanganan inflasi guna menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas kebutuhan pokok.

“Ini diperlukan untuk mencegah kenaikan tingkat inflasi. Dengan begitu, daya beli masyarakat menjadi terjaga,” kata Lihadnyana saat ditemui setelah memantau harga komoditas kebutuhan pokok, khususnya cabai dan bawang, di Pasar Anyar serta Pasar Banyuasri, Kecamatan Buleleng, Bali, Rabu.

Ia menginstruksikan kepada dinas atau instansi terkait untuk melakukan eksekusi langsung pada program-program guna menurunkan harga komoditas. Minggu ini, ia mengharapkan harga-harga tersebut bisa turun karena produksi komoditas, khususnya cabai, sudah mulai ada. Instruksi diberikan kepada Perumda Pasar Argha Nayottama dibantu oleh Dinas Pertanian, Perumda Swatantra dan Dinas Perdagangan. Eksekusi langsung lebih baik daripada terus melakukan koordinasi dan rapat-rapat antar instansi.

“Kalau modal kurang ada, BPD Bali akan ikut menyertai di lapangan. Saya minta dalam beberapa hari ini harus turun. Karena kalau dibiarkan, inflasi ini akan menyebabkan daya beli turun. Juga memberikan implikasi pada perekonomian Bali dan Buleleng khususnya,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan kedua pasar tersebut, cabai masih mengalami kenaikan. Harga bawang dan telur mengalami penurunan. Ini artinya, upaya-upaya nyata yang dilakukan oleh Perumda Swatantra untuk menurunkan harga bawang dan telur sudah menunjukkan hasil. Saat ini, hanya diperlukan upaya nyata untuk menstabilkan atau menurunkan harga cabai. Kerja sama seluruh pihak diperlukan dalam upaya nyata ini.

Baca juga: DPMD Buleleng minta desa ikut kendalikan inflasi

“Mohon juga dari teman-teman bahwa sekarang ini panen cabai akan terus terjadi. Karena cabai merupakan tanaman yang dipanen berulang kali bukan sekali. Panen ada di Desa Tambakan, Desa Pakisan, Desa Bebetin, dan Desa Gobleg juga ada. Itu yang harus diserap. Semua produk pertanian dibeli, ambil lalu dibawa ke pasa,” ujar Lihadnyana.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Perumda Pasar Argha Nayottama Made Agus Yudiarsana menyebutkan sebenarnya pihaknya sudah membuka gerai dua hari yang lalu. Harga cabai sudah sempat turun. Namun, harganya memang sangat fluktuatif dan fluktuasinya per jam. Khusus untuk Pasar Banyuasri, dalam dua hari terakhir terdapat stok cabai. Namun, saat dilakukan pemantauan, stoknya kosong.

“Jadi memang harus kita sikapi apa yang menjadi arahan Pj. Bupati. Kita harus stok semua produk cabai yang lokasinya sudah disebutkan. Yang mana lah nanti yang ada dan kita dapatkan,” sebutnya.

Pihaknya menambahkan panen cabai memang berbulan-bulan. Akan tetapi, terkadang hanya mendapatkan 25 hingga 50 kilogram saja. Agar tidak kehilangan waktu saat membuka gerai, diambil dulu yang sudah dipetik oleh petani lalu langsung dijual.

Saat ini, strategi tersebut harus diubah. Dalam artian, pihaknya harus menunggu hingga hasil panen petani dipetik secara keseluruhan.

“Sementara yang sudah kita lakukan di awal ada 75 kilogram di lokasi. Kalau sekarang ada katanya 300 kilogram yang akan dipanen. Lokasinya tersebar. Dinas Pertanian yang mengetahui dan punya data. Sebentar kita akan berkolaborasi untuk menunjukkan lokasi cabai yang siap panen. Nanti itu yang diserap,” kata Agus Yudiarsana.

Baca juga: RS Bali Mandara jelaskan kasus mata biru bocah Buleleng

Pewarta: IMBA Purnomo

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2022