Negara (Antaranews Bali) - Tim Penilai Lomba Ogoh-Ogoh Kabupaten Jembrana mulai menggelar Lomba Ogoh-ogoh (sejenis patung berbentuk raksasa jahat yang diarak) dengan peserta kelompok pemuda menjelang Hari Raya Nyepi.

"Juri mulai turun ke lapangan. Tahun ini, bahan yang digunakan membuat ogoh-ogoh harus seluruhnya ramah lingkungan. Kalau tahun lalu, beberapa bahan yang tidak bisa didaur ulang masih ditoleransi," kata Ketua Tim Penilai Lomba Ogoh-Ogoh Jembrana I Putu Sutardi di Negara, Jembrana Senin.

Sutardi yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Budaya Jembrana ini mengatakan, ogoh-ogoh yang menang dalam penilaian tingkat kecamatan, akan tampil pada puncak lomba tingkat kabupaten menjelang Hari Raya Nyepi.

Saat ini, ratusan ogoh-ogoh kreasi kelompok pemuda maupun kelompok masyarakat lainnya di Kecamatan Mendoyo, Pekutatan dan Negara sudah selesai dinilai dan tinggal tersisa untuk Kecamatan Jembrana dan Melaya.

Selain harus menggunakan bahan yang ramah lingkungan, konsep bentuk ogoh-ogoh harus sesuai dengan ajaran sastra agama yaitu, lambang bhutakala  sebagai simbol unsur negatif.

"Dalam pembuatan ogoh-ogoh yang benar, harus patuh dengan nilai-nilai religius dan sastra agama. Kalau bentuknya keluar dari konteks itu, kami tidak akan berikan nilai," katanya.

Menurut dia, mempertahankan bentuk ogoh-ogoh yang benar itu penting, karena ogoh-ogoh pemenang setiap kecamatan akan mengikuti parade saat upacara Tawur Kesanga yang dihadiri masyarakat luas.

"Jadi, masyarakat juga tahu seperti apa bentuk ogoh-ogoh yang sesuai nilai-nilai religius dan sastra agama. Bukannya ogoh-ogoh yang bentuknya asal-asalan," katanya.

Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan yang memantau langsung penilaian lomba ogoh-ogoh mengatakan, dengan menggunakan bahan ramah lingkungan seperti bambu, tingkat kesulitan peserta lebih tinggi dibandingkan dengan berbahan non-organik.

Menurutnya, dengan tingkat kesulitan itu justru menjadi ujian bagi kelompok peserta lomba dari sisi kreativitas yang bisa mereka lakukan.

"Kalau bahannya non organik seperti styrofoam, cara membentuknya sangat gampang. Dengan menggunakan bahan ramah lingkungan seperti bambu, lebih sulit lagi," katanya.

Syarat lomba yang ketat seperti harus mengacu dari sastra agama, baik untuk mengingatkan generasi muda terkait nilai-nilai keagamaan dan tradisi.

Menurutnya, budaya bagi orang Bali melekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak boleh lepas meskipun generasi manusianya berganti.

Untuk memotivasi kelompok pemuda membuat ogoh-ogoh, Pemkab Jembrana memberikan bantuan Rp850 ribu bagi 74 kelompok yang ikut.

Bagi yang lolos untuk tampil di tingkat kabupaten akan mendapatkan bantuan jasa pementasan sebesar Rp4 juta, sedangkan ogoh-ogoh terbaik akan mendapat hadiah Rp6 juta. (ed)

Pewarta: Gembong Ismadi

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018