Suara genta mengalun dengan iringan kepulan asap dupa yang mengawang di udara, pada suatu siang (19/8), ketika umat Hindu di Manggis, Karangasem, Bali, sedang khusyuk bersembahyang di Hari Raya Saraswati.

Hari Raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, yakni bertepatan ketika Saniscara Umanis wuku Watugunung. Umat Hindu di Bali memercayai bahwa Hari Raya Saraswati merupakan saat turunnya ilmu pengetahuan demi perdamaian, kemakmuran dan keberadaban umat manusia.

"Sudah sejak tahun 1980-an, kami selalu mengadakan upacara persembahyangan bersama setiap Hari Raya Saraswati. Setelah persembahyangan, dilanjutkan dengan 'pewintenan' siswa-siswa kelas VII dan anggota OSIS," ujar Kepala Sekolah SMPN 1 Manggis, I Komang Darma Suastika.

Untuk upacara pewintenan kali ini, kata pria yang akrab dipanggil Guru Komang Darma itu, diikuti oleh 290-an siswa/siswi. Tujuannya, pewintenan yang bertepatan dengan Hari Raya Saraswati adalah untuk pembersihan siswa/siswa, agar pikiran mereka terbuka karena akan menerima ilmu pengetahuan ketika sedang belajar di kelas.

Sarana upakara khusus yang dipersiapkan, antara lain banten/sesajen khusus pewintenan, yang terdiri atas ayaban tumpeng berjumlah 35, bebangkit, pulegembal, dan caru manca. Keseluruhan biaya yang disiapkan untuk upacara ini sekitar Rp10 juta.

Menurut  Guru Komang Darma, yang tinggal di Desa Ngis, Manggis itu, jika pada tahun-tahun sebelumnya, persiapan pembuatan banten/sesaji biasanya menggunakan waktu hingga tiga hari. Khusus Hari Raya Saraswati kali ini hanya sehari, karena berdekatan dengan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI.

Persiapan singkat ini, ternyata tidak mengurangi makna perayaan hari raya suci tersebut. Dengan iringan genta dan kidung doa, upacara yang dipuput Ida Pedanda Gede Made Dauh dari Griya Manggis ini diikuti ratusan siswa SMPN 1 Manggis dengan khusyuk dan penuh kekhidmatan, dalam suasana keheningan.  

"Saya berharap dengan terselenggaranya upacara ini, maka seisi sekolah akan mendapat kesehatan lahir batin. Bisa hidup dalam kebersamaan, rukun, tenteram dan prestasi murid makin meningkat. Dan sebenarnya inti dari upacara ini, memang untuk pembersihan agar murid-murid dapat menyerap pelajaran dengan baik," ucapnya.

Selama ini, langkah yang dilakukan untuk menjaga kesinambungan SMPN 1 Manggis tidak terputus jejak untuk siswa yang berprestasi, adalah melakukan tes seleksi. Selanjutnya ketika sudah masuk kelas VIII, maka siswa yang memiliki kemampuan lebih akan dimasukkan kelas unggul agar lebih mudah untuk pembinaan.

Langkah ini terbukti efektif, sehingga sejak bertahun-tahun lalu, siswa/siswi SMPN 1 Manggis rajin menuai prestasi dan mengharumkan nama sekolah di berbagai tingkat perlombaan.

Tidak hanya itu, supaya murid tidak melupakan jatidiri sebagai umat Hindu di Bali, maka berbagai lomba menjelang Hari Raya Saraswati pun rutin digelar oleh sekolah itu, seperti lomba membikin sanggah cucuk, lomba membuat pejati dan lainnya.


Prestasi Bertubi-Tubi

Semenjak beberapa puluh tahun lalu, SMPN 1 Manggis selalu dikenal sebagai sekolah yang piawai mencetak siswa/siswi berprestasi, baik berprestasi pada level kabupaten, provinsi, maupun nasional. Buktinya, selama periode Januari - Agustus 2017, murid SMPN 1 Manggis mencatat 129 jenis prestasi.

"Rinciannya, prestasi tingkat kecamatan 69 jenis, kabupaten 44 jenis, regional Baltim sembilan jenis, provinsi enam jenis dan nasional satu jenis," ujar guru agama dan wakil kesiswaan I Wayan Niarta.

Didampingi guru bahasa Inggris I Komang Gede Budiadnya, Niarta mengatakan untuk mempersiapkan murid-murid jika akan menghadapi perlombaan, maka sebulan sebelumnya sudah ada pelatihan setelah jam sekolah, serta pada hari Sabtu.

Untuk mencegah mental siswa agar tidak 'down', lanjut Niarta, maka setiap hari ada waktu untuk memberikan motivasi kepada seluruh murid. Selanjutnya peserta lomba akan dipanggil maju, dan diumumkan kepada seluruh siswa mengenai keikutsertaannya dengan membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Meski peserta gagal membawa piala kemenangan, akan tetap ada kegiatan motivasi bahwa mereka akan tetap dipanggil kembali.

"Sebagai ucapan terima kasih karena telah berjuang membawa nama sekolah. Kalah menang tetap kami terima, yang penting siswa itu telah berbuat maksimal," ujarnya, setelah persembahyangan Hari Raya Saraswati itu usai.

Setelah persembahyangan usai, salah seorang siswi berprestasi bernama Ni Putu Anggi Dina Ayuning menyatakan, dirinya cukup bangga dengan dukungan sekolahnya yang sangat maksimal jika ada murid yang hendak berlaga untuk perlombaan, baik lomba akademik, maupun non-akademik.

"Biasanya, kami digembleng maksimal dengan guru khusus, sehingga persiapannya bisa bagus. Kalau di rumah, saya belajar menyesuaikan dengan 'mood' saja. Tidak pernah memaksakan diri," kata peraih Juara II pada Olimpiade Sains Nasional (2017) yang berlangsung di Riau beberapa waktu lalu.

Menurut Anggi, prestasi lain yang pernah diikutinya, antara lain Juara III Lomba IPS tingkat kabupaten, Juara III Lomba Cerdas Cermat PMR tingkat regional Baltim (diikuti bersama temannya, Pasek dan Nova), Juara III cipta puisi tingkat provinsi, serta Juara I Lomba Cerdas Cermat PMR tingkat provinsi.

"Saya mengharapkan nanti terus berprestasi di sekolah, dan semoga dengan prestasi ini bisa mengantarkan saya pada cita-cita sebagai dosen," kata Anggi antusias.

Ketika mendekati tengah hari, beberapa siswa yang tergabung dalam OSIS kemudian mengadakan 'megibung' (makan bersama). Kegiatan ini berlangsung meriah, dipimpin ketua OSIS I Gede Nova Digayana.

Setelah peringatan Hari Raya Saraswati usai, suara kegembiraan pun berkumandang. Tawa, canda dan pekik riang ratusan siswa bercampur baur. Kegembiraan adalah bagian dari keseharian di sekolah SMPN 1 Manggis, agar murid-murid menjadi betah belajar dan giat memacu prestasi. (*)

-----------
*) Penulis adalah penulis artikel lepas yang tinggal di Bali.

Pewarta: Tri Vivi Suryani *)

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017