Tabanan (Antara Bali) - Umat Hindu di pedesaan yang memelihara ternak sapi menyiasati empat pantangan saat hari suci Nyepi dengan memberi makan hewan ternak pada Sabtu dinihari dan sebelum pukul 06.00 Wita sudah kembali ke rumahnya.

Para lelaki maupun ibu rumah tangga yang memelihara sapi dan babi harus pintar-pintar "mencuri" waktu agar ternak piaraannya tetap mendapat pasokan makanan sebagai mana mestinya, sebagaimana dilaporkan wartawan ANTARA dari Desa Adat Pekraman Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, 27 km barat laut Denpasar.

I Wayan Karya (42), petani setempat sudah pergi ke kandang sapinya di sawah yang berjarak sekitar 1,5 kilometer itu pada pukul 04.00 Wita untuk memberi makan tiga ekor sapi piarannya.

Rumput dalam tiga keranjang sudah disiapkan sehari sebelumnya, sehingga saat Nyepi tinggal memberikannya, tanpa harus susah mencarinya lagi.

Ayah dua putra yang akrab disapa Pan Angga itu selain memberikan makanan terhadap tiga ekor sapinya juga memberikan makan sejumlah babi dan ayam piaraannya.

Pan Santi (52), warga masyarakat lainnya juga melakukan hal yang sama, sehingga ternak piaraannya tetap mendapat pasokan makanan, meskipun pemiliknya sedang melaksanakan tapa brata penyepian.

Namun semua pekerjaan itu sudah harus selesai dilakoni sebelum matahari terbit, karena setelah matahari terbit atau sekitar pukul 06.00 Wita mereka wajib melaksanakan tapa brata penyepian.

Tapa brata penyepian wajib dilaksanakan umat Hindu pada peralihan tahun saka kali ini dari 1932 ke Tahun Baru Saka 1933 itu meliputi meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu dan tidak mengadakan hiburan atau bersenang-senang).

Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, yang berpenduduk 287 kepala keluarga atau sekitar 1.105 jiwa sebagian besar warganya bermatapencaharian sebagai petani dengan mengolah lahan yang tidak begitu luas.

Untuk menyiasati lahan garapan yang rata-rata hanya 20 are per orang itu, mereka harus memelihara ternak api, babi, ayam dan jenis ternak lainnya yang mampu memberikan pendapatan tambahan.

Lahan pertanian basah itu sebagian juga ditanami sayur-mayur, dibuat menjadi kolam ikan air tawar yang sanggup memberikan nilai ekonomis lebih besar dibanding hanya seluruhnya ditamai padi.

Banjar Ole dalam kehidupan sehari-hari penuh dengan kedamaian dan keheningan khas pedesaan, lengang dari kebisingan mesin kendaraan bermotor saat Nyepi.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026