Denpasar (Antara Bali) - Kehidupan adat dan tradisi keagamaan umat Hindu di Bali perlu didukung adanya "museum hidup", yakni sebuah kawasan yang mengoleksi berbagai jenis pepohonan keperluan kegiatan ritual agama.

"Rintisan itu sangat strategis dan mendesak, mengingat  masyarakat dan umat Hindu di Bali tetap dan akan terus melaksanakan kegiatan ritual, namun 'upakara' atau bahan-bahan sesajen semakin sulit diperoleh," kata Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I  Ketut Sumadi, MPar di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, pengembangan museum hidup yang tertata apik dalam sebuah kawasan luas dapat dikembangkan sebagai obyek wisata baru yang tidak kalah menarik bagi wisatawan mancanegara dalam menikmati liburan di Bali.

Rintisan itu penting dilakukan sejak dini, mengingat berbagai keperluan upakara, seperti janur, kelapa, bunga, daun, atau bambu  selama ini banyak mendatangkan dari luar daerah.

Kondisi demikian, katanya, menjadikan masyarakat dan umat Hindu di Bali memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan bahan upakara dari luar daerah, sehingga biaya upacara menjadi sangat mahal, ujar Ketut Sumadi yang meraih gelar doktor kajian budaya dari Universitas Udayana itu.

Ia mengingatkan, setiap desa pekraman (adat) di Bali bisa mengembangkan "museum hidup" dengan memanfaatkan tanah "laba pura", tanah milik warga bersama yang ada di wilayah masing-masing, sehingga mampu menopang kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat, maupun masing-masing desa pakraman.

Jika hal itu dapat direalisasi, umat Hindu akan dapat melaksanakan ritual dengan praktis dan murah. Para leluhur umat Hindu di Bali, sebenarnya telah mengajarkan konsep membangun "museum hidup" lewat ritual "Tumpek Bubuh", yakni kegiatan ritual untuk menghormati aneka jenis tumbuh-tumbuhan.

Menurut Ketut Sumadi, ritual "Tumpek Bubuh" baru diamalkan sebatas membuat sesajen, sehinga makna universal dan yang bersifat praktis untuk kehidupan keberagamaan belum diterapkan secara maksimal.

Meskipun demikian di Bali mulai ada beberapa orang dengan kesadaran sendiri menjadikan tanah miliknya sebagai lahan untuk tanaman obat-obatan, termasuk menanam pepohonan untuk keperluan kegiatan ritual keagamaan umat Hindu.

Ketut Sumadi menilai, program pemerintah untuk menjadikan Bali sebagai provinsi hijau dan bersih juga mengembangkan berbagai jenis pepohonan keperluan ritual.

Seluruh warga masyarakat wajib bertanggungjawab untuk memelihara tanaman hingga berhasil, sekaligus menyukseskan program penghijauan, harap Ketut Sumadi.(*)




Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026