Denpasar (Antara Bali) - Nilai Tukar Petani (NTP) di Bali sebesar 104,81 persen pada April 2016, menurun 0,05 persen dibanding bulan sebelumnya (Maret 2016) yang tercatat 104,86 persen.

"Meskipun NTP Bali menurun, namun masih lebih tinggi dibanding NTP tingkat nasional pada bulan yang sama tercatat 101,22 persen," kata Kepala Bidang Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali I Nyoman Subadri di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, dari sisi indeks yang diterima petani (lt) mengalami penurunan sebesar 0,44 persen yakni dari 126,93 persen pada bulan Maret 2016 menjadi 126,37 persen pada bulan April 2016.

Sementara dari sisi indeks yang dibayar petani (lb) mengalami penurunan sebesar 0,39 persen dari 121,04 persen menjadi 120,57 persen.

Nyoman Subadri menambahkan, dari lima subsektor yang menentukan pembentukan NTP Bali, tiga di antaranya mengalami penurunan, dan dua subsektor mengalami kenaikan.

Tiga subsektor yang mengalami penurunan terdiri atas tanaman pangan sebesar 1,73 persen, subsektor peternakan 0,38 persen dan subsektor perikanan 0,16 persen.

Dua subsektor yang mengalami kenaikan meliputi hortikultura 0,80 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat 1,23 persen.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan dan daya beli petani di daerah perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk biaya produk pertanian.

Nilai tukar petani diperoleh dari perbandingan indeks yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Semakin tinggi NTP dan semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani.

NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga, ujar Adi Nugroho. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026