"Di Bali hingga kini tercatat 18 kelompok tani dan usaha yang memproduksi pupuk anorganik dengan memanfaatkan limbah peternakan dan pertanian," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Made Putra Suryawan di Denpasar, Sabtu.
Ia mengatakan, ke-18 kelompok dan usaha kecil-kecilan dalam memproduksi pupuk organik dengan memanfaatkan limbah yang ada di sekitarnya diharapkan usahanya terus berkembang, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pupuk ramah lingkungan bagi petani sekitarnya.
"Pionir-pionir kelompok tani dan usaha pupuk ramah lingkungan itu diharapkan terus bertambah dengan harapan mampu menjadikan Bali sebagai Pulau Organik, bebas sampah sekaligus mewujudkan Bali menjadi provinsi hijau dan bersih," harap Made Putra Suryawan.
Ia menambahkan, kelompok tani dan usaha yang memproduksi pupuk anorganik itu tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali selama ini telah memproduksi pupuk ramah lingkungan masih secara kecil-kecilan.
Produksi tersebut secara bertahap diharapkan dapat ditingkatkan. Pupuk anorganik yang diproduksi Kelompok Tani Ternak (KTT) Setiawan di Banjar Sangging, Desa Kelating, Kerambitan Kabupaten Tabanan, pemasarannya menembus hampir seluruh daerah di Bali dan sangat diminati oleh petani kebun bunga dan tanaman hias.
Setiap bulan KTT tersebut memproduksi ratusan ton pupuk ramah lingkungan yang diolah dari limbah kotoran ternak dan limbah pertanian. Menurut koordinator lapangan kelompok ternak tersebut Agung Wijana limbah yang tadinya dibuang begitu saja oleh peternak kini menjadi matadagangan yang bernilai ekonomis, karena setiap bulannya memproduksi sekitar 150 ton pupuk organik.
Pupuk dalam kemasan 15 kg itu dijual Rp15.000 atau setiap kilogramnya Rp1.000, atau total penghasilan setiap bulannya Rp150 juta.
Kelompok yang beranggotakan 20 orang itu memelihara ratusan ekor sapi yang dipusatkan dalam satu lokasi, kotorannya diolah sedemikian rupa dan mampu memberikan penghasilan tambahan yang lumayan.
"Kalau dihitung secara kasar penjualan pupuk setiap hari rata-rata Rp5 juta. Itu penghasilan tambahan di luar hasil penggemukan sapi," ujar Agung Wijaya yang sebelumnya puluhan tahun bekerja di sektor pariwisata.
Ia menjelaskan, jika ditangani secara sungguh-sungguh sektor peternakan dan pertanian dalam arti luas di Bali mempunyai prospek yang sangat baik, tidak kalah dengan bidang pariwisata.
"Saya telah membuktikan hal itu, ketika di-PHK di hotel langsung kembali ke desa untuk mengembangkan peternakan sapi yang hasilnya lumayan bagus," tutur Agung Wijana.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan, dalam tahun 2010 pihaknya memberikan subsidi pupuk sebesar Rp4 miliar, yang penyalurannya diberikan kepada kelompok tani yang memproduksi pupuk anorganik Rp2 miliar dan Rp2 miliar sisanya diberikan kepada kelompok yang membuat pupuk phonstan.
Untuk 2011, persentase penyaluran subsidi pupuk tersebut akan lebih besar diberikan kepada kelompok tani yang memproduksi pupuk anorganik, yakni sebesar Rp3 miliar. Sedangkan Rp1 miliar sisanya akan diberikan kepada pabrik yang memproduksi pupuk organik.
Pada tahun 2012 dan selanjutnya seluruh subsidi pupuk diberikan kepada kelompok tani yang memproduksi pupuk organik. Oleh sebab itu, 50 kelompok tani terpadu yang dibangun dua tahun terakhir diberikan bantuan mesin untuk memproduksi pupuk organik dengan memanfaatkan kotoran ternak dan limbah pertanian lainnya.
Mesin pengolahan pupuk organik skala kecil dengan kemampuan produksi rata-rata dua ton perhari, harganya sekitar Rp250 juta.
Produksi pupuk tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan anggota kelompok tani bersangkutan, sehingga tidak lagi tergantung pada produksi pabrik pupuk, harap Gubernur Pastika. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.