"Sejak kemarin sebenarnya sudah turun hujan. Namun hujan yang deras sekali sejak tadi pagi, sehingga menyebabkan bukit menjadi longsor dan tanahnya menutupi depan rumah saya," ujar Nengah Mertayasa, salah seorang penduduk yang tinggal di bawah Bukit Sampiang, Jasri, Karangasem, Selasa,
Kejadian longsor ini, lanjut dia, menyebabkan halaman rumah menjadi penuh dengan reruntuhan tanah dan bebatuan. Untungnya hujan lantas berhenti, sehingga musibah longsor itu tidak berkelanjutan.
"Kejadian longsor kali ini baru saya ketahui siang sekali, sekitar pukul 13.30 WITA. Karena sepanjang pagi hingga siang, saya dan istri pergi keluar rumah. Makanya sangat kaget, begitu pulang menjumpai halaman dipenuhi longsoran dari bukit," ujar dia.
Dia mengatakan, tahun-tahun sebelumnya, tidak pernah terjadi longsor di wilayah Bukit Sampiang. Padahal dulu sering terjadi hujan deras beberapa hari terus-menerus, namun tidak pernah ada longsor seperti kali ini.
"Sekarang jadi agak takut-takut kalau hujan deras, khawatir kalau tiba-tiba longsor lagi dan nanti rumah saya tertimbun. Kemana nanti kami mengungsi," ujar Mertayasa balik bertanya dengan nada cemas.
Sebelumnya, akhir tahun lalu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memberikan pernyataan bahwa daerah Karangasem, Bali, yang merupakan daerah tandus paling luas di Pulau Dewata, berpotensi terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor. Misalnya di kawasan Kecamatan Kubu, Abang, Bebandem, Rendang dan daerah Selat.
Sementara, di Kabupaten Buleleng yang memiliki potensi besar akan terjadi bencana banjir bandang serupa jika terjadi hujan menengah-tinggi di Kecamatan Seririt, Busungbiu, Sukasada, Banjar, Sawan dan Tejakula.
Di Kabupaten Tabanan yang terkenal dengan daerah lumbung beras di Bali, juga memiliki potensi untuk banjir bandang, yakni di daerah wisata Kerambitan dan Penebel. Sedang di Klungkung, daerah yang berpotensi bencana adalah kawasan Dawan dan Kecamatan Klungkung. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Tri Vivi Suryani: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.