"Apabila ada satu kasus positif, pasti siap untuk melakukan penelitian," kata Rektor Unud, Prof Dr I Ketut Suastika ditemui usai kuliah umum mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Denpasar, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa dalam waktu singkat pihaknya akan melakukan pembahasan dengan peneliti dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan serta peneliti terkait lainnya untuk rencana penelitian itu.
"Dalam waktu singkat karena di Bali biasanya penyakit baru langsung cepat ada karena Bali kawasan wisata, banyak orang berkunjung," ucap dokter spesialis penyakit dalam itu.
Terkait teknis penelitian, Suastika menjelaskan bahwa penelitian bisa dilakukan dengan bekerja sama bersama pemerintah daerah karena perguruan tinggi negeri itu memiliki dana penelitian.
"Kami punya dana penelitian. Kalau penyakit itu mewabah dalam arti menyerang banyak, fakultas bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meneliti penyakit baru," ucapnya.
Terkait penyakit zika, pihaknya menyatakan bahwa harus dilihat dari sisi penyeberan dan gejala untuk dipelajari sehingga bisa mencegah penularan lebih luas.
Begitu pula dengan rabies, pihak bekerja sama dengan pemda untuk terjun langsung menggelar penelitian.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis bahwa virus zika disebarkan oleh nyamuk Aedes yang ditandai keluhan di antaranya deman dan ruam pada kulit dengan gejala dua hingga tujuh hari.
Belum ada obat atau vaksin untuk virus yang pertama diidentifikasi terjadi di Uganda pada 1947 itu.
Saat ini, WHO merilis bahwa penyebaran virus tersebut telah terjadi di sejumlah negara di Afrika, benua Amerika dan Asia Pasifik.
Belum dilaporkan ada pasien yang mengidap penyakit zika itu di Bali. Namun beberapa media di Australia melaporkan bahwa seorang warga dari negeri kanguru itu tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Darwin yang diduga mengidap zika setelah digigit monyet dan nyamuk saat ia berlibur di Bali. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.