"Panitia kegiatan FDB juga telah minta masukan ke kami mengenai pelaksanaan simakrama itu," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar, Sabtu.
Ia menjelaskan, guna mempelajari simakrama atau semacam "open house" dengan warga itu, pejabat Kementerian Luar Negeri RI sudah pernah meninjau wantilan gedung DPRD Bali, tempat simakrama biasa digelar setiap bulan.
Pastika mengatakan, FDB kali ini merupakan yang ketiga dan rencananya dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan berlangsung dua hari, 9 hingga 10 Desember 2010.
Gubernur menambahkan, pola simakrama akan dibahas dalam FDB untuk kemungkinan bisa diterapkan di tingkat nasional maupun internasional. Oleh sebab itu pelaksanaan simakrama di Bali akan terus dilaksanakan, minimal sekali dalam sebulan, katanya.
Bahkan kegiatan tersebut dalam Oktober 2010 ini dilaksanakan dua kali, yakni sebelumnya 9 Oktober dan karena pada September 2010 ditiadakan terkait dengan perayaan hari Saraswati atau hari lahirnya ilmu pengetahuan, maka dimajukan ke Oktober.
Gubernur Mangku Pastika menjelaskan, pihaknya bertekad selama lima tahun mengendalikan Bali, 2008-2013 akan menggelar 60 kali simakrama dengan elemen masyarakat.
"Simakrama yang berlagnsung kali ini merupakan yang ke-25 sejak kami dilantik menjadi gubernur dan wagub pada Agustus 2008," ujarnya.
Ia menambahkan, pola dan kemasannya perlu diubah, dengan harapan masyarakat dari berbagai elemen dan latar belakang itu tetap tertarik mengikutnya.
Sejumlah warga masyarakat ada yang tertarik mengikuti kegiatan simakrama itu secara terus menerus, meskipun pernah dilakukan secara bergantian ke delapan kabupaten/kota di daerah ini.
Gubernur Pastika menjelaskan, kegiatan simakrama yang dihadiri berbagai kalangan masyarakat merupakan hal baru dan satu-satunya di Indonesia.
"Gubernur lain di Indonesia tidak ada yang menerapkan pola seperti yang kita lakukan di Bali," ujarnya.
Sejumlah tamu-tamu penting dari mancanegara, termasuk duta besar sangat menghargai pola simakrama itu sebagai upaya menyerap informasi, kritik dan keinginan masyarakat dalam menyempurnakan hasil-hasil pembangunan.
"Ada orang asing yang menilai cara yang ditempuh Bali itu seperti zaman Yunani kuno," papar Gubernur Pastika.
Ia menambahkan, pola simakrama akan tetap dilaksanakan, meskipun menerima banyak masukan agar polanya diubah untuk setiap pertemuan membahas satu masalah tertentu.
"Saya masih tetapkan setiap pertemuan membahas berbagai hal sesuai masukan dan masalah yang disampaikan masyarakat," ujar Gubernur Pastika.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.