"Ketiga menteri itu adalah, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setyaningsih dan Menteri Pertanian Suswono," kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, kepercayaan kepada Bali yang dijadikan tuan rumah peringatan hari rabies se-dunia kali ini merupakan yang kedua, karena sebelumnya pada 2009 kegiatan serupa dilaksanakan di Kabupaten Tabanan.
Kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap upaya menangani penyakit rabies di Bali, sekaligus Bali bebas rabies dalam tahun 2012, harap Ketut Teneng.
Ia menjelaskan, berbagai upaya dilakukan untuk menjadikan Bali bebas rabies, antara lain dengan membentuk pusat penanganan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR).
"Rabies centre" yang masing-masing dibentuk di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit itu hingga kini tercatat 43 unit. Jumlah pusat penanganan rabies tersebut akan terus ditambah dengan harapan mampu menangani setiap gigitan anjing.
Ketut Teneng menambahkan, populasi anjing di Bali diperkirakan 500.000 ekor, namun yang baru divaksinasi sekitar 360.000 ekor.
Vaksinasi pada hewan, khususnya anjing dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan peranserta dari berbagai elemen masyarakat.
Pemerintah Provinsi Bali beserta seluruh jajaran di kabupaten/kota memberikan dukungan dan bertekad mewujudkan Bali bebas rabies tahun 2012.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr I Nyoman Sutedja, MPH dalam kesempatan terpisah mengatakan, gigitan anjing pada manusia sejak kasus yang mematikan itu muncul Agustus 2008 hingga sekarang mencapai 68.000 kali sehingga kalau dirata-rata setiap harinya terjadi 200 gigitan.
Kasus tersebut mengakibatkan 101 orang meninggal, 42 orang diantaranya positif rabies dan 59 orang lainnya masih menunggu konfirmasi laboratorium, namun sudah diduga terjangkit rabies.
Pemakaian VAR untuk melayani warga masyarakat yang digigit anjing oleh seluruh rumah sakit di Bali selama delapan bulan, periode Januari hingga pertengahan Oktober 2010 mencapai 160.000 vial VAR.
Kondisi tersebut meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 80.000 vial VAR, ujarnya.
Pemerintah pusat lewat Kantor Kementerian Kesehatan segera akan membantu pengadaan lagi 16.800 vial VAR untuk menangani penyakit rabies di Bali yang hingga kini belum dapat ditangani secara tuntas.
Pengadaan untuk tambahan VAR itu diharapkan bisa terealisasi dalam waktu dekat. Bali sendiri kini masih mempunyai persediaan 20.043 vial VAR, sehingga dengan adanya tambahan pengadaan oleh pusat pusat itu akan menjadi 36.843 vial.
Persediaan VAR dalam jumlah memadai itu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan VAR bagi RSUP Sanglah dan seluruh rumah sakit kabupaten/kota di daerah ini hingga April 2011.
Pemprov Bali telah mengalokasikan dana untuk pengadaan VAR sebesar Rp36 miliar, sejak kasus rabies itu muncul pada Agustus 2008 hingga sekarang, ujar I NYoman Sutedja.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.