Denpasar (Antara Bali) - Sekretaris Komisi III DPRD Bali, I Gusti Made Suryantha Putra menyatakan, perlu mengkaji ulang tempat pembuangan akhir (TPA) di Suwung, Kota Denpasar, Bali.

"Keberadaan TPA Suwung perlu dikaji ulang, karena lokasinya berada di kawasan hutan bakau, sehingga dikhawatirkan ketika air laut pasang maka sampah-sampah tersebut akan hanyut di bawah arus laut," katanya di Denpasar, Kamis.

Dalam rapat dengar pendapat antara Komisi III DPRD Bali dengan Badan Lingkungan Hidup dan Dinas kehutanan Bali, ia mengatakan, sampah tersebut tidak semuanya dibawa hingga ke laut, namun sebagian lagi mengendap di hutan bakau.

"Parahnya lagi, sampah-sampah yang mengendap di hutan bakau itu adalah sampah plastik," kata politisi PDIP tersebut.

Di Bali, kata dia, belum ada peraturan daerah (Perda) yang mengatur khusus soal penanganan sampah. Sedangkan bebeberapa daerah lain sudah ada yang memiliki Perda sampah.

"Daerah yang telah memiliki Perda terkait sampah, antara lain Kota Surabaya dan Jakarta. Oleh karena itu, Bali dinilai sangat mendesak untuk segera membuat Perda penanggulangan sampah," katanya.

Hal Senada juga diungkapkan Ketua Komisi III DPRD Bali, Putu Agus Suradnyana, bahwa Perda penanggulangan sampah harus ada di Bali.

"Kita harus berpikir panjang. Contohnya di Denpasar untuk sampah rumah tangga saja sekarang pengangkutan ke TPA oleh petugas DKP sampai kewalahan, bagaimana ke depan," katanya.

Untuk membuat sebuah Perda, kata dia, semua instansi terkait harus melakukan koordinasi, sehingga hasilnya yang diharapkan dapat berguna secara efektif.

Sementara anggota Komisi III DPRD Bali, Wayan Tagel Arjana menekankan juga pentingnya membuat perda yang berhubungan dengan penggunaan plastik sebagai kemasan.

Tentunya, kata dia, agar ada korelasi kuat dari gagasan penanggulangan sampah dengan limbah yang dihasilkan oleh industri.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Bali, Anak Agung Alit Sastrawan mengatakan, Bali menargetkan bebas sampah plastik pada tahun 2013.

Ia mengatakan, setiap hari rata-rata produksi sampah 5.000 meter kubik. Sekitar 30 meter kubik dari jumlah itu merupakan sampah plastik.

"Salah satu upaya untuk memenuhi target itu, pihaknya kini menjajaki teknologi pengadaan tas plastik yang terbuat dari keladi atau ketela," katanya.

Selain menjajagi teknologi pengganti plastik, kata dia, pihaknya terus melakukan kampanye penggantian penggunaan kantong plastik dengan kantong yang ramah lingkungan.

"Kami melakukan kampanye tersebut ke pasar-pasar swalayan, pasar tradisional maupun ke pedagang kios," katanya.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026