Denpasar (Antara Bali) - Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Bali menyatakan, sampai saat ini di ibu kota Pulau Dewata sudah tidak ada lagi anak berumur di bawah lima tahun (balita) yang alami gizi buruk.

"Di Denpasar kami tidak menemukan lagi adanya balita yang mengalami gizi buruk," kata Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Denpasar dr I Nyoman Nuada, di Denpasar, Kamis, di sela-sela Lomba Balita Indonesia (LBI) se-Denpasar. 

Dia menambahkan, meski sudah tidak ditemukan lagi balita yang gizi buruk, tapi muncul berbagai permasalahan lain saat ini.

Di antaranya, lanjutnya, muncul permasalahan balita yang mengalami kelebihan berat badan atau "obesitas". Permasalah tersebut saat ini tidak hanya muncul di Denpasar, tapi juga di berbagai kota besar lain di Indonesia.

"Selain permasalahan tersebut, permasalahan lainnya adalah sulitnya memantau kesehatan balita, karena tingginya mobilitas penduduk. Padahal kami telah menempatkan posyandu paripurna di setiap banjar," katanya.

Sementara itu, Nuada mengaku terus melakukan "sweeping" guna menyasar balita yang belum tersentuh posyandu. 

Dikatakan, saat ini jumlah balita di Kota Denpasar sebanyak 22.165 orang. Dari jumlah tersebut semua orang tua balita telah mendapatkan penyuluhan balita sehat.

Di sisi lain, Nuada mengatakan, lomba tersebut dilaksanakan secara rutin tiap tahun sebagai salah satu media pembinaan terhadap orang tua balita untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan dalam pembinaan kesehatan balita dari segi fisik, mental dan sosial.

Dia menambahkan, lomba itu juga bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, salah satunya melalui pembinaan dan pengembangan kesehatan.

Lomba dibagi dalam dua kelompok usia, yaitu enam sampai 24 bulan dan dua sampai lima, yang diikuti oleh 24 peserta.

Asisten Administrasi Pemerintahan Kota Denpasar Ketut Mister mengatakan, pembinaan manusia Indonesia berkualitas dimulai sejak dini, karenanya orang tua mempunyai peranan penting untuk membina perkembangan balita.

"Kami berharap dengan perlombaan ini dapat menghasilkan anak-anak yang tumbuh kembangnya dalam keadaan optimal sebagai tunas bangsa yang berkualitas," ujarnya.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026