Denpasar (Antara Bali) - Masyarakat Bali mulai tertarik mengembangkan kayu mahoni di tanah tegalan dengan kemiringan yang terjal atau lahan kosong, karena mampu memberikan nilai ekonomis, di samping berfungsi untuk penghijauan.
"Pengembangan kayu mahoni yang pertumbuhannya cukup cepat untuk 100 pohon hingga siap tebang membutuhkan modal sebesar Rp2,5 juta," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panasunan Siregar di Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, ongkos produksi usaha tanaman mahoni paling besar untuk upah pekerja yang mencapai Rp1,4 juta atau 56,92 persen dari total biaya pengeluaran.
Data tersebut diperoleh dari hasil sensus pertanian tahun 2013 yang dilakukan secara rinci terhadap tanaman kehutanan, sektor peternakan, pertanian, perikanan dan perkebunan.
Survei rumah tangga usaha budidaya tanaman kehutanan yang disempurnakan dalam tahun 2014 merupakan rangkaian sensus pertanian 2013 yang dirancang untuk menyediakan informasi mengenai biaya produksi dan struktur ongkos usaha tani di subsektor kehutanan.
Panasunan Siregar menambahkan, pengembangan kayu mahoni di Bali kini melibatkan 9.880 rumah tangga.
Kayu yang bisa dipanen dalam waktu lima tahun itu untuk memenuhi kebutuhan pembangunan fisik yang semakin meningkat di Pulau Dewata, disamping sebagai bahan baku pembuatan patung dan aneka jenis cindera mata lainnya.
Kegairahan masyarakat setempat mengembangkan kayu mahoni dengan tujuan ekonomis itu juga mampu mendukung kelestarian lingkungan Pulau Dewata.
Dengan demikian diharapkan mampu mempercepat terwujunya Bali menjadi Pulau Bersih dan Hijau (Bali Clean and Green) yang telah dicanangkan bertepatan dengan pembukaan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang pengelolaan lingkungan hidup di Nusa Dua, Bali 22 Februari 2010.
Komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan di Bali dengan menggerahkan segala daya dan upaya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan menyangkut kebersihan, sehat, nyaman, indah dan lestari untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.
Untuk itu peranserta masyarakat sangat menentukan dalam mewujudkan sasaran Bali bersih dan hijau. (WDY)
