"Desa-desa yang menjadi sasaran Lumbung Pangan itu tersebar di empat kabupaten yakni Karangasem, Buleleng, Klungkung, dan Bangli," kata Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Provinsi Bali Ketut Lihadnyana di Denpasar, Sabtu.
Menurut dia, hal-hal yang seringkali mengganggu ketahanan pangan suatu daerah disebabkan kondisi kekeringan, anomali iklim, pergantian musim hingga kegagalan proses produksi.
"Selain itu, program ini juga ditujukan untuk membantu masyarakat miskin mengakses pangan secara tepat dan cepat. Bahkan memantapkan ketahanan pangan sampai tingkat rumah tangga ," ujarnya.
Program Lumbung Pangan itu, ujar dia, tidak hanya menyangkut fisik ketersediaan pangan tetapi juga pengelolaannya supaya pada daerah-daerah yang rawan pangan ada cadangan makanan dan diakses secara efektif oleh masyarakat.
"Ketersediaan pangan yang dimaksud tidak hanya menyangkut beras, tetapi juga yang lain seperti telur hingga pangan lokal di desa bersangkutan," katanya.
Lihadnyana mengatakan diversifikasi pangan itu penting untuk mendukung ketahanan pangan khususnya produk pangan di luar beras seperti jagung, ubi kayu, dan "suweg".
"Hal ini supaya produk pangan lokal tidak merasa termarjinalkan," kata Lihadnyana.
Namun, ujar dia, tentu saja harus dibarengi teknologi dan penanganan pascapanen sehingga pangan lokal juga menjadi menarik. Sedangkan pada 2014 ada 37 desa yang menjadi sasaran program Lumbung Pangan. (WDY)
Pewarta: Oleh Ni Luh Rhismawati: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.