"Sudah 14 hari pasokan beras mengalami kenaikan sebagai akibat dari faktor iklim dan cuaca yang tidak menentu," kata pedagang beras, Gusti Made Widura, di Pasar Badung, Denpasar, Selasa.
Ia menjelaskan, sebelumnya harga beras C4 dan Serang dipasaran berkisar Rp8.500, setelah adanya kenaikan menjadi Rp9.500 per kilogram.
Selain itu beras C4 biasa sebelum ada kenaikan berkisar Rp7.000 menjadi Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram, beras putri sebelum ada kenaikan berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.
Beras harum sebelum ada kenaikan berkisar Rp8.500 hingga Rp9.000 menjadi Rp9.500 hingga Rp10.000 per kilogram, beras kereta sebelum ada kenaikan berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 menjadi Rp9.500 menjadi Rp10.000 per kilogram.
Widura menambahkan, kenaikan harga beras saat ini mengalami peningkatan tiap dua minggu sekali. Karena pasokan di beberapa produsen mulai menipis, pasokan biasanya juga didatangkan dari Lombok, Jawa, dan beberapa daerah di Bali.
Dia mengakui kenaikan harga beras tidak dapat dibuat alasan kenaikan harga BBM karena kenaikan terjadi karena cuaca saat ini, hal ini sudah biasa terjadi.
Harga beras memang sudah biasa naik di bulan Desember hingga bulan Februari, karena curah hujan yang tinggi menyebabkan para petani tidak dapat menjemur gabahnya.
Gabah dengan kualitas terbaik biasanya dijemur secara manual yaitu dengan bantuan sinar matahari, adapun sebagian pengusaha penggilingan beras menyiasati penjemuran dengan menggunakan pengering oven, tetapi hasilnya tidak bagus dan beras yang dihasilkan mengalami penyusutan kadar air hingga 45 persen dan ketahanan beras relatif rentan, "ujar Widura".
Lain halnya hasil bumi seperti kedelai, jagung, kacang hijau tidak mengalami kenaikan harga, adapun kenaikan harga BBM dan kebutuhan lainnya, kata pedagang hasil bumi, Made Irwan, di kawasan Pasar Badung.
Harga-harga hasil bumi biasanya dipengaruhi oleh cuaca ekstrim, seperti halnya harga jagung biji kecil sebelum dan sesudah adanya kenaikan BBM masih dan kenaikan bahan pokok masih diharga Rp4.200 per kilogram, jagung biji besar masih diharga Rp3.200 per kilogram, jagung giling kasar masih diharga Rp4.200 per kilogram, jagung giling halus masih diharga Rp5.000 per kilogram
Sedangkan untuk kacang ijo besar masih diharga Rp16.000 perkilogram, kacang ijo sayur masih diharga Rp16.000 per kilogram dan untuk kedelai lokal masih diharga Rp7.000 per kilogram dan kedelai impor masih diharga Rp8.200 per kilogram," ujar Irawan.
Ia menjelaskan, kualitas barang masih tetap sama bagusnya dengan barang sebelumnya, hanya saja yang membedakan barang lokal dengan impor. Barang impor tidak dapat bertahan lama karena faktor ketahanan suhu dan harga mengikuti naik turunnya kurs dolar AS.
Pasokan barang selama ini tetap stabil dan tidak terkendala oleh apapun. Pasokan barang biasanya didatangkan dari Pulau Jawa, Lombok, dan Denpasar.
Tetapi pasokan dari Denpasar tak sebanyak dulu, karena terkait dengan makin sempit lahan garapan yang sudah lama digunakan untuk pembangunan villa dan hotel berbintang.(MFD)
Pewarta: Oleh Mayolus FajarEditor : Mayolus Fajar Dwiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.