Denpasar (Antara Bali) - Nilai tukar petani Bali sebesar 107,06 persen pada Oktober 2014, atau di atas rata-rata NTP tingkat nasional pada bulan yang sama sebesar 102,87 persen.

Persentase nilai tukar petani (NTP) Bali itu mengalami penaikan hingga sebesar 0,99 persen dari NTP pada bulan sebelumnya sebesar 106,02 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panusunan Siregar di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan bahwa hal itu artinya tingkat kesejahteraan petani di Pulau Dewata masih lebih baik daripada rata-rata kesejahteraan petani secara nasional.

Subsektor utama yang mendorong naiknya NTP Bali, menurut dia, adalah subsektor tanaman pangan yang mengalami kenaikan sebesar 1,53 persen.

Panusunan Siregar menjelaskan berbagai komoditas pertanian terbagi dalam lima subsektor, yakni tamanan pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan.

Nilai tukar petani diperoleh dari perbandingan indeks yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani.

"Makin tinggi NTP-nya, makin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani," katanya.

Nilai tukar petani, lanjut dia, juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga.

Panusunan Siregar menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada bulan Oktober 2014, NTP Bali mengalami kenaikan sebesar 0,99 persen dari NTP bulan sebelumnya.

Kenaikan NTP disebabkan oleh naiknya nilai indeks yang diterima petani sebesar 1,20 persen lebih tinggi daripada kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,22 persen.

Kenaikan NTP tersebut, kata dia, didorong oleh naiknya NTP subsektor tanaman pangan sebesar 1,53 persen, tanaman perkebunan rakyat 1,36 persen, hortikultura 1,27 persen, dan subsektor peternakan 0,25 persen.

"Sementara itu, NTP subsektor perikanan mengalami penurunan 0,30 persen," ujar Panasunan Siregar. (WDY)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026