Karangasem (Antara Bali) - I Ketut Sukarda (65) dan cucunya I Komang Jonantara (11), warga asal Banjar Tenggang, Seraya Tengah, Kabupaten Karangasem, Bali terpaksa harus menjalani perawatan di rumah, meski yang bersangkutan diduga terinfeksi virus rabies.
"Kami tak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit, jadi ya tinggal di rumah saja," kata I Ketut Sukarda ketika ditemui ANTARA di rumahnya Banjar Tenggang, Senin.
Sambil mengerang nenahan rasa sakit, Sukarda menceritakan soal penyakit yang diduga rabies itu kini "bersarang" di tubuh sang cucu dan dirinya.
Dikatakan, Sabtu (14/8) lalu dirinya beserta sang cucu yang sedang berjalan kaki di dekat rumah, tiba-tiba digigit seekor anjing yang diduga mengidap rabies.
Oleh warga setempat, Sukarda dan Jonantara kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Karangasem di Amlapura untuk dimintakan vaksin anti-rabies (VAR).
Tetapi sayang, VAR disebutkan dalam keadaan kosong. "Kami hanya diberi resep oleh dokter, kemudian disuruh membeli VAR sendiri di apotek," ucapnya.
Sesuai resep yang diberikan dokter, sambung Sukarda, pihaknya kemudian mendatangi apotek, ternyata harga dua ampul VAR dan beberapa pil itu, jumlahnya mencapai Rp400 ribu. `
Dengan uang hasil pinjaman, Sukarda akhirnya membeli obat seharga itu, namun rasa sakit dan ngilu di sekitar lukas bekas gigitan anjing, belum juga kunjung berakhir.
"Lantaran biaya perawatan mahal, kami hanya bisa berdiam diri di rumah," ujarnya, pasrah.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Karangasem Nyoman Karya Kartika mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami kedua warga yang diduga terinfeksi rabies itu.
"Kami prihatin mereka harus menjalani perawatan di rumah. Lebih prihatin lagi, VAR yang seharusnya gratis bagi warga, dikatakan dalam keadaan kosong," ujarnya, geram.
Kartika menyatakan, pihaknya curiga bahwa kekosongan VAR di RSUD Karangasem terjadi karena permainan sejumlah oknum. `"Kami curiga ada oknum yang bermain dalam hal ini," katanya.
Menyikapi hal itu, lanjut Kartika, pihaknya akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek informasi warga yang tidak mendapat pelayan VAR sehingga harus membeli di luar rumah sakit.
"Jika informasi itu benar, kami akan memanggil pihak Dinas Kesehatan dan RSUD Karangasem," ucapnya.
Sementara itu, Humas Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karangasem Nyoman Wira Karmana mengatakan, VAR di rumah sakit memang dalam keadaan kosong sejak Senin (9/8) pekan lalu.
Sehubungan dengan itu, lanjut dia, pihaknya akan berupaya agar VAR bisa cepat didatangkan.
Ketika disinggung soal VAR yang dijual di luar rumah sakit, Wira mengaku tidak bisa berkomentar banyak. "Yang jelas kami tak ada kerja sama soal jual beli VAR tersebut," ucapnya.
Rabies yang tercatat merebak sejak awal tahun lalu di kabupaten ujung timur Pulau Dewata itu, tercatat telah merenggut ratusan penderita yang lima di antaranya tak berhasil ditolong nyawanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.