Denpasar (Antara Bali) - Sebanyak 1.024 pelajar SMP dan SMA se-Pulau Dewata ikut ambil bagian dalam Jambore Pelajar Lintasagama (Jampela) Provinsi Bali di Lapangan Kapten Bulit, Desa Adat Serangan, Kota Denpasar.

"Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu antara lain dimaksudkan sebagai upaya mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di kalangan para pelajar," kata Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Drs IGAK Suthayasa, di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, arus modernisasi dan globalisasi dewasa ini selain telah membawa suatu perkembangan yang cukup pesat, juga tantangan tersendiri di masyarakat.

Demikian pula persentuhan dengan kebudayaan dari luar negeri sebagai dampak dari arus tersebut, dikhawatirkan bisa menimbulkan perubahan terhadap pergeseran paradigma sosial.

Oleh sebab itu, lanjut dia, dampak negatif dari pergeseran sosial itu diharapkan dapat diatasi dengan baik dengan mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agama yang dianut dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Jampela dimaksudkan agar ajaran agama dapat dijabarkan dalam hidup keseharian sebagai makluk sosial.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar tersebut diisi dengan ceramah, bimbingan mental, rohani dan kegiatan khusus sesuai agama yang dianut masing-masing peserta.

Lewat berbagai kegiatan dalam Jampela itu diharapkan mampu sebagai perekat kerukunan antarumat beragama yang selama ini di Bali sangat mesra dan harmonis. Mereka hidup berdampingan satu sama lain tanpa pernah ada masalah.

Melalui Jampela yang berlangsung sejak 13 hingga 15 Juli mendatang itu, para pelajar diharapkan dapat memelihara kerukunan dan menerapkan makna kehidupan "Menyama Braya", yakni persaudaraan dengan semua umat beragama, ujar Suthayasa berharap.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026