"Benar, kami masih melakukan upaya mediasi dulu, karena pihak kepolisian meminta agar masalah tersebut diselesaikan di antara masing-masing pihak," kata Humas Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali Muhammad Nasri di Denpasar, Selasa.
Kekerasan yang menimpa kontributor TV Swasta nasional Riadis Suhli (Adi) dan Putu Jana itu terjadi di Denpasar, Senin (7/6) saat keduanya bersama wartawan lain meliput aksi unjuk rasa sopir taksi yang tergabung dalam Paguyuban Jasa Wisata Bali (PJWB),
Menurut Nasri, setelah peristiwa yang menimpa dua wartawan televisi itu pihaknya sudah melaporkan kasus tersebut ke Polsek Denpasar Selatan sesuai tempat kejadian perkara (TKP).
Setelah kedua belah pihak bertemu, katanya, muncul itikad baik dari para pelaku sopir taksi bahwa mereka menyesali aksi brutal yang menyerang dua wartawan saat meliput peristiwa di Jalan By Pass Ngurah Rai itu.
"Para pelaku secara lisan sudah minta maaf dan siap bertanggungjawab atas kejadian ini. Sepertinya mereka tidak ingin kasusnya dilanjutkan ke proses hukum," kata pria yang akrab disapa Aci ini.
Selain itu, pihaknya sudah menyampaikan jumlah kerugian dialamai Adi yang kameranya dibanting dan diinjak-injak para sopir taksi. "Kami sudah sampaikan kerugian kamera yang rusak itu harganya sekitar Rp4 juta," kata dia.
Meski mengaku bisa menerima itikad para sopir taksi itu, namun pihaknya masih melihat dulu kesungguuhan mereka. "Jika mereka tidak bisa mau bertangggungjawab dan pihak paguyuban tidak menindak anggotanya kami akan pertimbangkan untuk meneruskan kasus ini agar ditangani sesuai hukum berlaku," katanya.
Setelah mengalami kekerasan, Adi masih trauma dan belum bisa menjalankan aktivitas peliputan seperti biasa. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026