Belasan anak usia dini melakukan aktivitas melukis dibimbing oleh seorang guru pendidikan non formal di bengkel kerja milik seniman andal Mangku Darta di Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, 60 kilometer timur Denpasar.

Demikian pula sekelompok wanita sebagian dari kalangan ibu rumah tangga melakukan aktivitas melukis klasik gaya Kamasan, keahlian yang diwarisinya secara turun temurun.

Mereka menggoreskan tangan di atas kanvas menciptakan warna menyerupai satu bentuk atau simbul yang kaya akan makna, mampu menggambarkan keindahan dan kedamaian.

Jiwa seni yang diwarisi masyarakat Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, itu diwariskan kembali kepada anak cucu mereka, sehingga lukisan klasik Bali atau yang lebih dikenal lukisan gaya kamasan tersebut tetap lestari, diwarisi satu generasi ke generasi berikutnya.

Karya seni lukis tradisional Bali itu cukup diminati wisatawan mancanegara saat mereka menikmati liburan di Bali sekaligus membelinya sebagai cindera mata dibawa pulang ke negaranya, disamping menembus pasaran ekspor.

"Model masyarakat Bali dalam mengembangkan seni rupa secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya bisa dijadikan pola pengembangan seni rupa di Indonesia maupun negara lainnya," tutur Direktur Pengembangan Seni Rupa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Watie Moerany.

Ia mengatakan hal itu ketika membuka Bulan Ekspresi Budaya dan Tradisi Bali atau "Bali Art in Culture & Tradition" (Bali Act) yang digelar secara serentak pada 102 lokasi di Pulau Dewata dengan merangkul museum, galeri dan studio seni.

Pengembangan seni rupa Bali yang bisa diangkat ke tingkat nasional maupun internasional itu, berkat kemampuan seniman Pulau Dewata menyatukan seni dengan kehidupan seni budaya dan aktivitas ritual masyarakat keseharian.

Hal itu mampu memberikan inspirasi yang terus mengalir dalam menciptakan karya kanvas, maupun menciptakan garapan tabuh dan tari yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Seniman Bali sejak lama memang sudah terbiasa mengekspor karya seni kanvas disamping banyak dibeli oleh wisatawan saat menikmati liburan di Pulau Dewata.

Pendiri dan pemilik Museum Arma Ubud, Anak Agung Gede Rai, menjelaskan seni rupa tradisional Bali yang kini mencuat ke permukaan berkembang lintas tradisi dan didukung pihak akademisi setempat yang menawarkan pergeseran dengan mengusung pola kreativitas.

Semua itu sebagai proses evolusi perkembangan sejarah pengukuhan identitas seni rupa tradisional Bali yang secara terus menerus memberikan inspirasi kreativitas dalam berkesenian.

Seni rupa tradisional menyandang pola baku yang mewariskan tradisi secara turun temurun hingga sekarang. Dengan demikian budaya kesenian yang diwarisi hingga sekarang lahir dari sebuah ketulusan.

Sifat keluguan dari para seniman dulu mengungkapkan sebuah keiklasan pengabdian yang "ajeg" (kokoh) terhadap kehidupan beragama dan kemasyarakatan.

Kondisi demikian didukung oleh semakin kuatnya akar budaya tradisional Bali dalam semua sendi kehidupan, yang membuat hampir semua seniman tradisional Pulau Dewata tidak berpikir mengenai imbalan yang akan diterimanya.

Namun demikian seniman Bali tetap berkarya untuk menghasilkan karya hasil kreativitas yang terbaik. Entah mereka berperan dalam posisi sebagai pencipta atau sekadar pelaku.

Semua itu mereka lakoni dalam bentuk pengabdian sebagai sebuah "yadnya", pengorbanan suci secara tulus ikhlas dan idealisme itu kian berdenyut dalam nadi masyarakat pendukungnya, tutur Agung Rai yang mengoleksi ratusan karya lukis seniman Bali tempo dulu yang dibelinya dari kolektor seni di luar negeri.



Muncul kekhawatiran

Agung Rai yang juga pelaku dan praktisi seni itu menambahkan, seiring perkembangan zaman, kini muncul kekhawatiran menyangkut konservasi dan pengembangan seni rupa tradisional Bali cenderung nampak kekhasannya (superficial).

Jika diamati dalam proses interaksi hanya digelembungkan lewat pariwisata rasanya tak bisa mengurus semangat maupun penciptaan seni rupa tradisional Bali tersebut.

Hal itu akibat aspek pendukung yang lebih mendasar dan memberikan fondasi kuat pada konstruksi seni lukis Bali. Seni rupa tradisional merupakan analisis kebutuhan adat istiadat dan agama.

Dengan demikian merupakan jalan pengabdian dan penyatuan dengan Sang Pencipta untuk memberikan ilham seni yang langgeng, tutur Agung Rai.

Kurator pameran Bali Act yang menyuguhkan 114 lukisan, karya instalasi dan performence Rizky A. Zaelany menjelaskan, Bali selama ini dikenal secara meluas di dunia internasional berkat kekayaan khasanah budaya yang dilandasi nilai-nilai agama serta kesenian yang menyatu dengan kegiatan ritual.

Seni menjadi bagian dari kehidupan keagamaan, bahkan disebutkan bahwa "agama adalah seni dan seni adalah agama itu sendiri". Kebudayaan Bali memiliki akar tradisi yang kuat dan terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman.

Kesinambungan nilai-nilai tradisi itu tercermin dalam perkembangan seni rupa Bali, karena berbagai kilasan sejarah mencatat bahwa seni rupa Pulau Dewata menunjukkan sebuah perkembangan seni rupa yang berjalan dalam garis perkembangan tersendiri.

Perkembangan itu menunjukkan pertalian seni rupa dengan nilai-nilai tradisi dan budaya. Pertalian itu diyakini dapat mempertahankan identitas budaya ketika berinteraksi dengan moderenitas.

Hal ini menjadi motivasi kuat sehingga lahir menjadi sebuah gerakan estetis. Identitas budaya yang tercermin melalui bahasa rupa itu didasari usaha untuk mempertahankan kontinyuitas nilai-nilai dari masa lalu dalam menghadapi perkembangan zaman.

Perkembangan seni rupa Indonesia dipengaruhi oleh perubahan peta seni rupa internasional yang lebih sering disebut sebagai "seni rupa global" (global art), yang hingga sekarang banyak ditafsirkan sesuai perspektif dan kepentingan masing-masing pihak.

Seni rupa di negara maju seperti Amerika dan negara-negara Eropa misalnya, menangggapi perkembangan seni rupa global secara berbeda dengan bangsa-bangsa di kawasan Asia atau Amerika Latin.

Seni rupa global berkaitan dengan pengalaman dan proses globalisasi dunia, namun tidak sepenuhnya bentuk kemajuan dari perkembangan seni rupa yang ditentukan oleh keberhasilan sebuah bangsa untuk memperoleh kamajuan di bidang alat-alat produksi ekonomi.

Selain itu kekuatan pendorong kemajuan seni rupa global adalah aspek sejarah dan kebudayaan. Proses globalisasi dunia sebenarnya terjadi dalam berbagai bentuk dan kejadian, sebelum kini terjadi dalam pengaruh kekuatan sistem ekonomi dan informasi secara lebih dominan.

Bahkan sebelum terjadinya masa keemasan Renaissance Eropa di Italia, berbagai belahan wilayah di dunia telah dihubungakan dalam berbagai bentuk penjelajahan dan hubungan perdagangan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa dari kawasan Asia dan Afrika.

Pengalaman globalisasi dunia yang terjadi kini memang telah berlangsung secara Khas, berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Pangalaman kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, misalnya, menjadikan keadaan dan struktur sosial-ekonomi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika Utara.

Namun demikian, bukan berarti sistem nilai kebudayaan Asia atau Afrika juga terbelakang, selain hanya tertinggal akibat terhambatnya pembangunan infrastruktur seni dan budaya yang mampu menopang perkembagannya.

Di masa sekarang tidak mudah menemukan contoh perkembangan dari sebuah budaya yang mampu adaptif sekaligus terus menunjukkan dinamika kemajuannya seperti halnya seni rupa di Pulau Dewata yang tetap hidup dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya, ujar Rizky A. Zaelany.  (WRA) 

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Gede Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026