Denpasar (ANTARA) - Di dalam lingkar panggung Angsoka Pesta Kesenian Bali yang megah, riuh tepuk tangan penonton berpadu dengan binar takjub ke arah tengah.
Di tengah kalangan, sejumlah seniman muda dengan indra yang tak utuh mulai menggerakkan tangannya, ada pula yang menyelaraskan langkah kaki dengan tabuhan gamelan yang menghentak.
Siang itu di Taman Budaya Denpasar, keterbatasan fisik tak lagi menjadi sekat, lewat gerak tubuh yang melampaui batas raga, mereka tidak sekadar menari, mereka sedang melarungkan jiwa, mendobrak keterbatasan fisik menjemput Atma Kerthi (penyucian jiwa) sesungguhnya.
Pesta Kesenian Bali ke-48 memberi ruang yang lebih luas bagi inklusivitas, menghadirkan lebih banyak seniman disabilitas yang mengoptimalkan rasa dan jiwa alih-alih memaksakan fisik harus sempurna.
Sekitar 120 siswa dari 12 Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bali memberi gambaran bagaimana tema Atma Kerthi yang diangkat tahun ini benar-benar memuliakan jiwa, harmoni gerak mereka benar-benar menghipnotis sekitarnya.
Mendobrak keterbatasan fisik
Guru sekaligus pembina kesenian di SLB Negeri 1 Bangli Pande Nyoman Sunarta menuturkan bagaimana satu bulan terakhir enam siswa berlatih hingga akhirnya berhasil menjawab kerumitan seni Bali dengan agem dan seledet-nya; cara berdiri dan gerakan bola mata dalam tarian Bali.
Di awal, yang dilakukan guru ialah mengajarkan bagaimana agar siswa siswi tersebut dapat mengikuti tempo. Ini tak mudah, sebab kebanyakan mereka tuli dan bisu.
Belum lagi bagi siswa tuna grahita yang pada waktu-waktu tertentu suasana hati dan emosinya berubah-ubah.
Untuk itu demi memastikan para siswa tampil perdana dengan optimal, latihan dilakukan setiap pagi.
Perjalanan ini turut mengubah karakter sehari-hari, mereka akhirnya terbiasa disiplin; diminta ke sekolah pukul 8.00 Wita tapi sudah tiba 30 menit sebelumnya.
Semangat membara ini berhasil membuat mereka sukses dengan kostum Bali nuansa merah muda-oranye tampil membawakan tari Kembang Janger.
Tari tradisional populer yang muncul tahun 1930-an ini dibawakan secara berpasangan, mereka menceritakan pergaulan muda-mudi yang bahagia dan ceria, seolah menyampaikan suasana hatinya siang itu.
Pesan atma kerthi coba disampaikan lewat bagaimana mereka menjiwai sebuah garapan, mereka tetap fokus pada arahan guru di depan agar langkahnya tepat ketukan.
Hal yang sama juga dilakukan SLB Negeri 1 Badung, di mana kesabaran menjadi kunci dasar suksesnya penampilan Tari Galang Bulan yang berdurasi 5 menit.
Lelin, guru sekaligus pembina kesenian di satuan pendidikan khusus itu butuh waktu dua minggu penuh sampai anak-anak betul-betul menguasai koreografi.
Ketika mereka berhasil menaklukkan kerumitan itu, tampil dengan keterbatasan bukan lagi tantangan melainkan jembatan untuk siswa menunjukkan dirinya untuk berprestasi.
Atma Kerthi bagi mereka
Bagi seniman umum, Pesta Kesenian Bali mungkin ajang bergengsi dan kompetisi, namun bagi seniman disabilitas, panggung ini adalah ruang persembahan suci.
Ketika mereka menari tanpa mendengar gamelan, menepak tabuh tanpa melihat, atau bernyanyi dengan tubuh yang tak utuh secara totalitas, ego raga mereka luruh. Yang berkomunikasi dengan alam semesta adalah jiwa (atma) mereka yang murni dan merdeka.
Sekar, salah satu penari, merasa ketika berdiri di panggung ia adalah gadis SMP normal tanpa kekurangan apapun.
Dibantu penerjemah, dengan bahasa isyarat, Sekar menggebu-gebu menyampaikan bagaimana ia meluapkan rasa dan jiwanya dalam tarian kebahagiaan itu.
Menyadari bahwa dirinya bisa menari membuatnya bangkit lagi, sehingga setiap ada kesempatan untuk unjuk diri tidak akan disia-siakan.
Komang Sintya, siswi SMA di SLB Negeri 1 Badung tak ingat makna Atma Kerthi yang dijelaskan gurunya, namun seniman muda penyandang tuna grahita itu hanya mengingat menari, menari, dan menari di pikirannya.
Bagi seorang tuna grahita, fokus dalam waktu yang panjang bukan hal mudah, tetapi karena kecintaannya terhadap menari ia berhasil menembus keterbatasan itu.
Panggung inklusi yang setara
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali berupaya memberikan ruang yang merata bagi seluruh seniman, namun tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha menggugah kurator untuk melihat PKB 2026 tidak lagi sekadar pesta estetika fisik.
Ada pesan bahwa kurasi tetap berjalan tapi fleksibilitas sesuai dengan kualitas perlu diterapkan.
Seperti disampaikan Prof I Gede Arya Sugiartha sebagai kurator, tahun sebelumnya seniman disabilitas memang sudah dilibatkan tampil, namun tahun ini mereka diberikan ruang lebih besar.
Mulai dari pawai pembukaan PKB 2026 pada 13 Juni, seniman dengan disabilitas fisik ikut parade dengan kursi roda, jejaknya diikuti seniman muda ragam disabilitas dari SLB se-Bali, hingga komunitas yang tampil via sanggar seni.
Keberadaan mereka menjawab tema besar tahun ini, mereka adalah refleksi bahwa seni adalah ekspresi jiwa melalui berbagai media, tari dengan gerak, gamelan dengan suara, seni rupa dengan garis dan warna.
Mereka hanya terbatas pada fisik dan kemampuan indra, namun jiwanya berhasil melampaui kekurangannya.
Saat gamelan terakhir berhenti dan penari mulai masuk ke balik tirai, senyum haru muncul dari orang tua, guru, dan siswa lainnya.
Para seniman muda itu nampak puas, saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain.
Siang itu, panggung PKB menjadi saksi keterbatasan fisik kalah telak oleh kemenangan jiwa yang suci.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.