Denpasar (ANTARA) - Cuaca Bali yang panas terik beberapa hari terakhir tidak menyurutkan semangat sejumlah anak mendatangi gedung Annika Linden Centre di Denpasar.
Dengan diantar para orang tuanya, mereka kemudian memasuki salah satu ruang kelas yang dikelola oleh Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali.
Desir udara yang berembus dari mesin penyejuk ruangan, siang itu, cukup menyegarkan anak-anak berusia rentang 9-12 tahun atau usia sekolah dasar.
Tanpa banyak komando dari instruktur, sebanyak delapan orang anak itu kemudian mengenakan celemek warna hijau untuk melindungi pakaiannya dari cipratan warna.
Mereka sudah tidak sabar mengikuti kelas belajar melukis yang dipandu relawan dan instruktur.
Kelas seni lukis di YPK Bali itu diadakan sejak Februari 2025 dengan total peserta kini sebanyak 15 anak-anak.
Mereka tidak dipungut biaya alias gratis untuk ikut seni lukis karena pembiayaan sepenuhnya didukung dari donasi.
Sebagian besar dari peserta itu adalah anak-anak disabilitas fisik dan mental karena beragam sebab, mulai dari karena kecelakaan, bawaan lahir, hingga autisme.
Kalau melukis dengan menggunakan kuas di kanvas merupakan pemandangan biasa, namun anak-anak tersebut belajar melukis dengan teknik unik, yaitu dengan cara ditiup.
Fine art
Nyoman Yuda, relawan di sanggar itu, menyatakan lebih senang ketika anak-anak menumpahkan kreativitas dengan mengandalkan keterampilan diri daripada mereka lebih banyak terpapar layat gawai.
Untuk itu, jebolan Seni Rupa Desain di Universitas Udayana (Unud) pada 2000 tersebut menjadi relawan yang membimbing anak-anak itu belajar seni lukis tiup menggunakan alat bantu sedotan.
Alat yang dibutuhkan pun tergolong sederhana, yakni kanvas, cat akrilik berbahan dasar air dan sedotan, didukung fasilitas berupa meja dan kursi.
Pertama, anak-anak diajak bermain warna pada kanvas.
Mereka kemudian diajarkan menuang warna dengan metode lapisan, misalnya dari warna terang, kemudian ditumpuk dengan warna lebih gelap.
Setelah warna tersusun, mereka kemudian meniupnya. Bisa tiupan panjang atau tiupan pendek, semuanya bebas ditentukan oleh sang anak.
Tiupan demi tiupan menggunakan sedotan itu menghasilkan tekstur warna baru.
Sesekali di sela anak-anak fokus meniup, tawa dan canda mereka memecah suasana karena satu sama lain saling berinteraksi, mencermati ekspresi gerak wajah dan mulut yang terlihat lucu ketika meniup.
Keseruan itu menghasilkan karya unik karena pola dari hasil seni lukis tiup itu tidak bisa ditiru dan karya antara satu anak dengan anak lainnya tidak sama.
Hasilnya berupa lukisan abstrak yang membentuk garis-garis atau pola-pola tertentu.
Bahkan, tiupan pada lapisan warna itu membentuk objek alamiah misalnya berbentuk satwa atau flora, padahal tanpa ada desain atau konsep sebelumnya.
Itu sebabnya lukisan tersebut tergolong istimewa dengan edisi yang terbatas, menjadi karya seni murni (fine art) dan karya seni yang mahal bagi pengagum seni sejati.
Tumbuh kembang
Teknik lukis tiup itu memang dikenal luas di dunia seni rupa. Namun bagi anak-anak, teknik itu merupakan hal yang baru, tapi sangat membantu untuk produktif.
“Akan lebih produktif dan positif mereka sampai bisa mandiri di rumah melukis tiup, daripada lama-lama main ponsel atau gadget,” kata Yuda.
Pemilihan teknik lukis dengan cara ditiup bukan tanpa alasan. Ayah tiga anak itu menyebutkan dengan meniup, maka anak-anak melatih pernafasan, sama seperti teknik olah vokal di dunia musik.
Pria berusia 51 tahun yang juga menekuni seni musik itu menjelaskan dalam olah vokal, nafas yang kuat menandakan daya tahan tubuh yang baik.
Selain melatih pernafasan, pemilihan seni lukis tiup juga menyesuaikan keterbatasan fisik, misalnya menyangkut fungsi pada bagian tangan.
Belajar lukis tiup dilakukan setiap Jumat per pekan dengan durasi satu hingga dua jam.
Durasinya memang terbilang singkat, namun ia berharap seni lukis tiup membawa dampak positif untuk tumbuh kembang anak-anak.
Pasalnya, mereka secara tidak sadar dilatih untuk berpikir logika dan intuisi melalui permainan warna.
Tak hanya itu mereka juga dilatih untuk sabar, fokus, teliti dan mandiri.
Salah satu peserta yang kini memiliki kemajuan melukis tiup yakni Ayu Suanita, pelajar kelas VI di salah satu sekolah dasar di Desa Guwang, Kabupaten Gianyar.
Awalnya, pelajar berusia 11 tahun yang mengalami disabilitas fisik pada tangan itu belum tertata dalam menuang warna pada kanvas.
Kini, ia sudah bisa mandiri bahkan lukisan tiupnya membentuk objek alamiah berupa burung.
Sepulang sekolah, ia juga meneruskan hobi yakni menggambar dengan menggunakan pensil krayon pada buku gambarnya di rumah.
Adapun karya lukis tiup anak-anak itu dipamerkan di dalam ruang kelas yang biasanya dilihat ketika pengunjung atau donatur bertandang di YPK Bali.
Beberapa perhotelan juga memboyong lukisan tiup itu untuk dipamerkan dan menarik minat wisatawan untuk membelinya.
Mengalihkan candu medsos
Setidaknya menekuni kesenian termasuk seni lukis tiup oleh anak-anak dapat menjadi salah satu metode memperkaya kualitas anak, termasuk membatasi perhatian mereka agar tidak kecanduan media sosial.
Menurut dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Ni Luh Sukma Pratiwi Murti, melukis tiup dapat membantu mengisi kegiatan anak agar tidak terpapar layar elektronik terus menerus.
Dokter sekaligus dosen subdivisi tumbuh kembang pediatri sosial (TKPS) Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Ngoerah Denpasar, Bali itu menilai lukis tiup membantu mengasah kreativitas anak.
Selain itu, melatih motorik halus, koordinasi, konsentrasi, serta membantu melatih otot-otot oral motor.
Otot oral motor adalah sekumpulan otot di area mulut mencakup bibir, lidah, pipi hingga rahang.
Kemampuan otot tersebut penting misalnya untuk koordinasi makan dan komunikasi.
Yang terpenting adalah pengawasan dari pembimbing atau orang tua untuk memastikan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti cat masuk ke mulut.
“Seni lukis tiup bisa membantu mengisi kegiatan anak agar tidak terpapar layar elektronik terus menerus,” kata Ni Luh Sukma.
Upaya mendukung tumbuh kembang anak itu sejalan dengan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang resmi berlaku pada 28 Maret 2026.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menyatakan, 48 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Selain itu, lebih dari 80 persen anak-anak Indonesia mengakses internet setiap hari dengan durasi yang tidak singkat yaitu rata-rata selama tujuh jam.
Agar bocah tidak terpapar dampak negatif seperti konten tidak layak dan kecanduan digital, pemerintah membatasi penggunaan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun.
Selain kebijakan itu, peran orang tua juga amat penting dalam memberikan anak-anak ruang yang aman dan kreatif.
Menggali bakat anak-anak di bidang seni berpotensi mendukung tumbuh kembang mereka demi masa depan anak itu sendiri dan juga cita-cita Indonesia Emas.
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026