Denpasar (ANTARA) - Fenomena bekerja dari kafe atau work from cafe (WFC) kini kian menjamur di tengah pergeseran gaya kerja modern, secangkir kopi tidak lagi sekadar teman bersantai, melainkan bagian dari ritme produktivitas generasi muda yang fleksibel.
Tren ini terlihat jelas di berbagai pusat urban dan daerah wisata seperti Bali, di mana kafe telah beralih fungsi menjadi ruang kerja alternatif yang menawarkan kenyamanan lebih dibandingkan kantor formal atau kamar pribadi.
Suasana santai, fasilitas internet cepat, dan ketersediaan ruang hingga larut malam menjadi alasan utama mengapa para pekerja kreatif, freelancer, hingga mahasiswa memilih menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar laptop di cafe.
Manajer coffee shop lokal, I Dewa Nyoman Wira Yusti Ananda, mengungkapkan mayoritas pelanggan justru memadati kafe pada malam hari, yang didominasi oleh kalangan pelajar dan pekerja kantoran.
“Mayoritas pelanggan datang malam hari karena memang banyak anak sekolahan dan pekerja kantoran. Jadi habis aktivitas utama mereka, baru datang ke kafe. Mungkin karena di kafe mereka bisa lebih santai, bisa sambil nongkrong dan makan juga,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan perilaku ini menuntut pelaku usaha untuk tidak hanya fokus pada menu, tetapi juga pada fasilitas pendukung yang memadai.
“Sekarang kafe memang lebih mengutamakan Wi-Fi yang cepat dan suasana yang nyaman, jadi mereka kerja tidak terasa jamnya. Kadang mereka memang sengaja cari kafe yang bisa buka lebih malam, tapi faktor tempat, rasa, dan harga tetap jadi penentu utama,” katanya menambahkan.
Pergeseran gaya hidup ini juga dipicu oleh sistem kerja remote pascapandemi.
Di Bali, fenomena ini semakin diperkuat dengan kehadiran digital nomad mancanegara yang bekerja menyesuaikan zona waktu negara asal perusahaan mereka. Saat malam tiba di Indonesia, mereka justru sedang berada di jam kerja aktif.
Bagi banyak orang, hiruk-pikuk kafe yang terkontrol justru dianggap mampu meningkatkan fokus dan mereduksi rasa jenuh dibandingkan bekerja sendirian di rumah.
Bagi Anda yang ingin mencoba atau meningkatkan produktivitas saat bekerja di kafe, berikut adalah beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama pelanggan dalam memilih ruang kerja alternatif, di antaranya:
Koneksi Internet Stabil: Memastikan pekerjaan dan rapat daring berjalan tanpa gangguan teknis.
Akses Listrik: Ketersediaan colokan listrik di setiap meja untuk mendukung daya perangkat elektronik.
Pencahayaan dan Suasana: Pencahayaan yang nyaman di mata serta area yang tidak terlalu bising untuk menjaga konsentrasi.
Jam Operasional: Memilih tempat dengan jam buka hingga larut malam, terutama bagi mereka yang bekerja dengan perbedaan zona waktu.
Menu Penunjang: Ketersediaan kopi dan makanan ringan sebagai bahan bakar energi selama bekerja.Melalui integrasi antara kenyamanan dan fasilitas pendukung, kafe kini telah bertransformasi menjadi pilar penting dalam ekosistem kerja digital. Hal ini membuktikan bahwa produktivitas dapat tercipta di mana saja, selama lingkungan sekitar mampu menghadirkan inspirasi dan ketenangan di tengah rutinitas.
Pewarta: Tim Redaksi Antara BaliEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.