Denpasar (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengajak semakin banyak operator seluler menghadirkan jaringan teknologi komunikasi generasi kelima (5G), termasuk mencakup daerah wisata di Bali.
“Selalu ada teknologi baru yang muncul, pemerintah selalu mendukung lewat regulasi agar pihak operator menyesuaikan dengan teknologi yang berkembang agar mereka jangan ketinggalan dengan negara luar karena masyarakat dan wisatawan butuh konektivitas lancar,” kata Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Denpasar Kementerian Komdigi Zainullah Manan di Denpasar, Rabu.
Menurut dia, di Bali belum seluruh wilayah menerima jaringan 5G. Padahal, wisatawan tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota.
Ia beralasan apabila hanya mengandalkan lalu lintas 4G, sedangkan teknologi semakin berkembang maka kondisi tersebut dinilai belum memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan jaringan cepat.
“Kalau perlu 5G di seluruh Bali, tapi mungkin karena kemampuan operator terbatas butuh biaya dan teknologi untuk menjangkau seluruh wilayah, tapi Komdigi selalu mendukung karena satu persen pertumbuhan internet itu akan membantu tiga persen pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Zainullah menjabarkan kehadiran jaringan 5G yang stabil dan merata akan membantu proses transaksi, belajar, dan komunikasi di daerah wisata.
Untuk itu, operator seluler Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menjawab tantangan Komdigi dengan meluncurkan jaringan 5G di Bali dan Lombok di 660 titik.
Menurut VP Head of Technology Java Indosat Sugeng Rumawan, jaringan 5G di daerah wisata merupakan hal penting apalagi Bali yang memerlukan jaringan lebih besar karena padatnya pengguna layanan.
“Bali ini yang butuh banyak cakupan sinyalnya adalah daerah wisata kota, sentra-sentra pertumbuhan lalu lintas data 5G yaitu tertinggi Kuta Kabupaten Badung kemudian Denpasar khususnya Denpasar Selatan dan Denpasar Barat,” ujarnya.
Selain itu, daerah wisata yang perlu menjadi perhatian namun tidak mudah menyambungkan jaringan cepat itu adalah pedesaan dan dataran tinggi seperti kawasan pariwisata di Kintamani Bangli.
“Dataran tinggi tantangannya lebih kompleks karena secara kontur dia itu naik turun, dan ini menjadi satu tantangan untuk bisa diatasi lebih solutif dibanding dataran rendah misalnya daerah Pantai Kuta,“ kata Sugeng.
Senada dengan Sugeng, Senior Vice President (SVP) Head of Region Bali Nusra Indosat Julandi George Fransiskus menambahkan selain untuk mendukung kepariwisataan, jaringan mumpuni ini dibutuhkan oleh digital nomad atau mereka yang bekerja jarak jauh di Bali.
Julandi memetakan setidaknya ada empat kebutuhan yang memerlukan jaringan 5G yaitu untuk streaming dan mengunggah konten, WFH atau bekerja di rumah, kebutuhan kecerdasan buatan (AI), dan pengemar gim.
“Mengunggah konten ini untuk masyarakat dan turis yang ingin mengundah momen secara realtime, lalu WFH banyak WNA digital nomad di Canggu itu dan juga wisatawan domestik, membantu UMKM kita untuk berjualan daring juga, membantu mengoptimalkan AI, dan penting untuk gamers yang butuh layanan andal,” tuturnya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.