Badung (ANTARA) - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memprioritaskan pasar Asia sebagai strategi jangka pendek di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah.
“Untuk ASEAN yang paling prioritas itu Malaysia dan Singapura kemudian yang naik itu Filipina, Vietnam, Thailand, yang kedua Asia Timur jadi China, Jepang, dan Korea itu prioritasnya, kemudian Oceania itu Australia, Asia Selatan India, itu yang kita prioritaskan jangka pendek saat ini,” kata Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini.
Dalam Konferensi Pers Bali Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung, Senin, Made Ayu menjelaskan pengalihan strategi dari yang sebelumnya menggaet pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika ke kawasan Asia, merupakan upaya untuk tetap mempertahankan pariwisata di tengah krisis.
Apalagi tahun ini Kemenpar ditargetkan mampu mendatangkan 16-17 juta wisman setelah 2025 mampu mendatangkan 15,4 juta wisman.
“Karena kita ada jumlah target bagaimana caranya, jadi kita sudah menghitung itu, dari Amerika dan Eropa dibebankan ke Asia, termasuk anggarannya kita ubah juga, itu harus dihitung untuk mendapatkan angka atau target di situ,” ujarnya.
Kemenpar mengaku optimistis strategi jangka pendek ini menjanjikan untuk pariwisata, sebab kondisi saat ini telah menuntut sektor pariwisata bergerak dinamis.
"Kalau ditanya apakah percaya diri, harus, karena modal untuk industri pariwisata percaya diri namun realistis, hitung data, pesawat terdampak berapa, harga tiket yang meningkat dengan avtur meningkat seperti apa, makanya kita punya strategi jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang,” ujar Made Ayu.
Di samping memprioritaskan pasar Asia, Kemenpar menyampaikan pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika masih tetap dijaga, dengan cara tidak menaikkan maupun menurunkan target.
Tetapi Made Ayu menyadari konflik Timur Tengah sebagai lokasi transit wisman Eropa ke Indonesia khususnya Bali itu akan memberi dampak terhadap pembatalan kunjungan.
Gantinya, mereka yang datang dipastikan wisman dari kalangan atas mengingat untuk datang ke Bali perlu akomodasi mahal melalui jalur lain seperti Singapura.
“Wisman jarak jauh ini akan tetap liburan apalagi musim panas akan tiba, segmennya kelas atas, ini tetap kita jaga tapi prioritas kita sekarang (menggaet Asia) juga dilakukan oleh hampir semua pesaing,” tutur Made Ayu.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026