Denpasar (ANTARA) - Para peziarah dari beragam latar belakang agama menjalankan tradisi ziarah kubur di Pemakaman Muslim Wanasari Maruti 13 atau dikenal Kampung Wanasari, Kota Denpasar setelah menunaikan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Pemakaman ini memang diperuntukkan kepada Muslim, yang dimakamkan Muslim, tapi di Bali karena majemuk ada yang orang tuanya, anaknya, atau saudaranya ada keturunan Islam jadi ketika meninggal keluarganya yang non-Islam ikut ziarah,” kata Ketua Pemakaman Muslim Wanasari Maruti 13 Abdul Hakim di Denpasar, Sabtu.
Ia mengatakan tak ada batasan dalam tradisi ini, seluruh umat beragama diizinkan berziarah dengan berpakaian sopan dan rapi.
Biasanya para peziarah sudah mulai datang sepekan menjelang Idul Fitri untuk mulai membersihkan makam mendiang keluarga atau sekaligus tabur bunga lebih awal.
Apalagi, dua hari lalu Hari Raya Nyepi sehingga masyarakat Muslim sudah merencanakan jadwal dengan baik karena saat Nyepi tidak dapat melakukan ziarah atau persiapan lainnya.
Begitu pula dengan umat Hindu yang memiliki keluarga dimakamkan di Kampung Wanasari itu sehingga tidak mungkin melakukan ziarah saat Nyepi.
Puncak tradisi itu pada Hari Lebaran, setelah umat Islam melaksanakan Shalat Idul Fitri, mereka menuju makam Kampung Wanasari untuk mendoakan mendiang keluarga.
“Rangkaiannya peziarah H min satu minggu datang jelang Idul Fitri tapi puncaknya saat Idul Fitri karena biasanya supaya tidak desak-desakan, biasanya yang datang hari ini karena tidak mudik, karena sengaja ke Bali untuk ke makam keluarganya, atau memang tinggal di Bali karena banyak memang Muslim Bali makanya ada yang keturunannya beda agama,” ujarnya.
Saat hari normal, Abdul mencatat jumlah masyarakat yang datang ke makam Kampung Wanasari 100-150 orang, sedangkan pada Kamis (19/3) atau malam Jumat bisa menyentuh 500 orang. Namun, ketika Ramadhan menjelang Lebaran jumlah mereka yang datang bisa ribuan orang.
Untuk mengakomodasi mereka yang hadir dalam tradisi ziarah ini, pengelola makam membuka lokasi hingga pukul 18.00 WITA. Hal itu didukung fasilitas dan air minum untuk membantu masyarakat yang berdesakan untuk masuk makam.
Ia memperkirakan jumlah peziarah akan menurun pada H+3 Lebaran.
Suasana toleransi umat lintas agama tidak hanya terlihat di dalam makam, namun juga di depan makam, sebab UMKM yang menjual bunga di depan makam tidak hanya diisi umat Muslim namun juga Hindu.
“UMKM ini mayoritas penduduk setempat tapi ada yang Hindu bahkan mereka jualan turun-temurun, ada yang 20 tahun jual bunga, mereka biasanya stok bunga apalagi berbenturan Hari Raya Nyepi jadi banyak menyiapkan karena banyak yang beli, ini membawa berkah juga bagi semua umat,” ujar dia.
Salah satu peziarah bernama Nyoman Menu menuturkan keluarganya termasuk yang masih menjalankan tradisi ziarah terutama saat Idul Fitri.
Ia hadir bersama anak-anak dan cucunya termasuk yang berbeda agama untuk mendoakan almarhum suami yang meninggal dunia.
“Ini rutin kami laksanakan tidak hanya Idul Fitri dan Ramadhan, saya bersama anak-anak, semua ini anak-anak saya kan di sini memang beragam, bahkan yang dari luar negeri juga ada, saya sendiri asli Bali tapi ikut suami dan yang penting tujuan datang ke sini untuk berdoa dan nyekar almarhum,” ujarnya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026