Denpasar (ANTARA) - Khatib Shalat Id di Lapangan Lumintang Denpasar Masrur menggaungkan semangat moderasi beragama memaknai Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Ini tentang bagaimana kami hidup bermasyarakat yang majemuk, tadi disampaikan tentang moderasi beragama jadi kami bukan hanya hablun minallah atau artinya kita hanya menyembah Allah saja,” kata Khatib Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah Masrur di Lapangan Lumintang, Denpasar, Sabtu.
Ia juga mengajak seluruh umat Muslim hidup berdampingan dengan orang lain secara baik atau yang disebut hablun minannas.
Apalagi, kata dia, warga yang tinggal di Bali sebagai memiliki semangat menjaga moderasi dan toleransi beragama karena daerah itu dengan masyarakat yang majemuk sebagai ikon moderasi beragama
“Bali ini kan sebagai ikon moderasi beragama, yang selama ini sudah berjalan berabad-abad, jadi kita pertahankan jangan sampai ada kelompok-kelompok tertentu yang kemudian menimbulkan konflik karena dengan alasan agama, karena agama sudah jelas ajarannya, yaitu hablun minallah, hablun minannas,” ujarnya.
Ia menyontohkan tentang moderasi beragama pada Shalat Idul Fitri di Lapangan Lumintang karena umat Muslim tidak sibuk sendiri karena hadir pecalang atau satuan pengamanan desa adat di Bali yang bahu-membahu bersama kepolisian mengamankan lalu lintas.
Setiap tahun, katanya, jumlah umat yang mengikuti Shalat Id terus meningkat, bahkan tahun ini 5.000 orang diperkirakan hadir memadati lapangan tersebut untuk Shalat Idul Fitri.
“Semua panitia sudah koordinasi dengan baik dan alhamdulillah ternyata hari ini tanggal ini (Idul Fitri) jadi persiapan panitia tidak mepet Nyepi, sudah dilaksanakan dengan maksimal dan kami juga dibantu oleh pecalang-pecalang, itu yang kami bangga dengan semuanya,” kata Masrur.
Panitia memperkirakan umat Muslim melaksanakan Shalat Id di lapangan tersebut pada 2026 terjadi peningkatan lantaran umat menemukan kedamaian kehidupan di Bali, terlebih tahun ini Idul Fitri berdekatan dengan Hari Suci Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu.
Selain itu, umat Muslim yang diperkirakan tidak mudik atau sudah menetap di Bali dan lokasi Lapangan Lumintang yang tak jauh dari wilayah Kampung Muslim di Denpasar.
Setelah Shalat Idul Fitri, umat Muslim melanjutkan tali silaturahim dengan keluarga atau orang yang lebih tua di daerah itu.
Salah satu jamaah Valentina Septa mengaku senang karena pertama kali melakukan Shalat Id di lapangan tersebut bersama ribuan orang Muslim lainnya.
Perempuan berasal dari Belanda tersebut, mengaku di negaranya tak ada kegiatan seperti itu. Selama ini, Ramadhan dilakukan secara sendiri-sendiri dan Shalat Idul Fitri berlangsung di rumah.
“Saya dari Belanda tapi dulu lahir di Indonesia, setengah tahun terakhir balik ke Bali, di sini Ramadhan dan shalat panas tapi tetap terkoneksi dengan Tuhan karena suasananya lebih bagus di sini banyak Muslim, sedangkan di Belanda semua sendiri-sendiri,” ujarnya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026