Denpasar (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memulai penelitian untuk melihat seberapa besar kontribusi sampah dari sektor pariwisata.
“Ada banyak sektor yang menyumbang sampah, ada pemukiman, industri, perkantoran, nah pariwisata kami masih kosong datanya, kami mau melihat dari sektor pariwisata yang ada di Indonesia itu berapa banyak,” kata Peneliti BRIN Professor Reza Cordova.
Profesor Reza di Denpasar, Kamis, mengambil Bali, Jogja, Lombok, dan Labuan Bajo sebagai latar penelitian melihat kawasan ini merupakan daerah pariwisata terutama Bali sebagai penyumbang devisa tinggi dari sektor tersebut.
Ketika penelitian ini rampung dan laporannya naik, BRIN menargetkan membuat sebuah ringkasan kebijakan yang bisa dijalankan untuk menyelesaikan persoalan sampah dari sektor pariwisata yang selama ini kerap diduga sebagai penyumbang sampah yang besar.
“Kami mau melihat bagaimana sebenarnya bebannya, pengelolaannya, kami akan melihat juga ada contoh baik atau tidak yang bisa dikelola secara umum di Indonesia, kalau sudah bisa dapatkan kami bisa memberikan saran kepada pemerintah untuk pengelolaan sampah terutama sampah plastik dari sektor pariwisata,” ujarnya.
Pada tahap awal, BRIN akan mengumpulkan data pada sampel-sampel di empat daerah sasaran baik di akomodasi maupun objek wisata.
Secara kasat mata, Prof Reza melihat memang masih banyak pelaku usaha yang tidak mengelola sampahnya dengan baik seperti akomodasi non-bintang, namun data pasti yang sedang dikejar.
Apalagi diketahui masih banyak akomodasi yang berdiri ilegal, yang kemungkinan sama sekali tidak mengelola sampah hanya membebani ke pemerintah daerah.
Berangkat dari data tersebut, BRIN dapat melihat solusi-solusi penanganan sampah dari sektor pariwisata, seperti menentukan sampah jenis apa yang bisa dikerjakan para pelaku usaha dan bagaimana pendekatannya.
“Berdasarkan data yang dihimpun di awal, wilayah wisata ini sudah ada pengelolaannya tetapi menyerahkan ke pemda atau ke pihak ketiga, seharusnya kan kalau berdasarkan target ada pemilahan dari sumber dulu,” kata Prof Reza.
“Kalau dari sumber sudah terkelola, maka seharusnya yang masuk ke TPA lebih kecil, jadi kami akan mencoba melihat titik mana yang krusial, yang kosong, yang kemudian bisa kita berikan saran untuk pengelolaannya supaya lebih baik,” sambungnya.
