Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan bakal membebaskan lahan milik masyarakat yang terdampak longsor pada Minggu (11/1) yang terletak di bawah menara pemancar siaran telekomunikasi sekaligus destinasi wisata Turyapada Tower.
“Itu memang lahan yang akan dibebaskan untuk gondola, lintasan gondola, sedang proses penetapan lokasi,” kata Gubernur Bali Wayan Koster di Denpasar, Rabu.
Meski sempat terjadi longsor dan menimpa salah satu rumah warga, gubernur asal Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng itu memastikan setelah ditata, area tersebut akan aman untuk wisata kereta gantung.
“Kan ada konstruksinya nanti, kalau sekarang kan karena tidak ada konstruksi jadi ketika dia hujan gede longsor, nanti kalau konstruksi kan aman,” ujarnya.
Pemprov Bali saat ini masih menyusun kebutuhan lahan untuk membangun wisata gondola dan juga memetakan kondisi tebing terjal untuk memastikan area tersebut aman dari kemungkinan longsor kembali.
“Sedang disusun dokumennya berapa luasan, lintasannya gondola itu kan 900 meter lebih itu akan dibebaskan,” ucapnya.
Terkait longsor yang menimpa rumah warga Desa Adat Amerta Sari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, ia memastikan bukan disebabkan akibat dampak pembangunan Turyapada Tower, sebab berjarak sekitar 50 meter dari menara itu.
Ia mengungkapkan rumah milik I Kadek Ribek itu berada di luar jangkauan bangunan utama Turyapada Tower.
Di sisi lain, kata dia, area itu termasuk wilayah untuk dijadikan kawasan penunjang destinasi wisata baru tersebut.
“Oh bukan (karena) bangunan (Turyapada Tower) itu. Kan ada lahan kira-kira 50 meter dari lokasi Turyapada itu miring, saat banjir longsor,” kata Gubernur Koster.
Pemprov Bali saat ini menyiapkan pemulihan lahan serta melakukan kajian kemungkinan relokasi, sembari menunggu penyusunan dokumen pemanfaatan lahan bekas longsoran tersebut.
