Denpasar (Antara Bali) - Petugas keamanan dan pemandu wisata yang siaga di pos pendakian Gung Agung di dearah Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, mengimbau para pelancong untuk tidak melakukan pendakian Gunung Agung.

Imbauan ini sehubungan dengan buruknya cuara belakangan ini.

"Cuaca yang kerap turun hujan deras disertai angin kencang, sangat membahayakan bagi aktivitas pendakian di hampir semua jalur di gunung tertinggi di Bali itu," kata Nyoman Sudarsana, anggota Kelompok Pemandu Wisata Kebut Gunung (KPWKG) Agung, ketika dihubungi dari Denpasar, Selasa.

Pemandu wisata gunung yang kerap tergabung dalam tim Basarda Bali melakukan pencarian terhadap pendaki yang hilang di gunung tersebut, menyebutkan, hampir tidak ada rute yang aman bisa dilalui pendaki bila cuaca dalam keadaan buruk.

Masalahnya, untuk dapat mencapai kawasan puncak dari gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu, pendaki kerap harus menempuh jalan setapak selebar kurang lebih 50 cm yang diapit jurang yang dalam.

"Jurang yang mengapit jalan setapak yang adalah punggungan gunung itu kedalamannya mulai dari puluhan hingga ratusan meter. Salah-salah, bisa terpeleset," ujar pemandu wisata gunung senior tersebut.

Selain diapit jurang, tidak sedikit juga jalanan yang memiliki kemiringan lebih dari 75 derajat, sehingga cukup menyulitkan bagi pendaki pemula, katanya.

Sehubungan dengan itu, baik Sudarsana maupun beberapa pemandu wisata yang lain mengharapkan para pendaki menunda kegiatannya "memanjat" Gunung Agung berkenaan dengan masih berlangsungnya cuaca yang sangat buruk.

Beberapa pemandu wisata mengaku sempat menolak untuk mengantarkan para wisatawan yang ingin mendaki terkait cuasa buruk belakangan ini.

Namun demikian, ujar Made Suena, pemandu yang lain, ada juga pelancong yang mencoba-coba melakukan pendakian tanpa dengan pengawalan petugas pemandu "kebut gunung".

"Ini yang kerap mengundang bahaya," ujar Suena dengan menambahkan, tidak sedikit pendaki yang kemudian tewas atau hilang saat mendaki Gunung Agung saat cuaca tidak menguntungkan.

Sudarsana mengungkapkan, dirinya sempat terlibat dengan tim SAR untuk melakukan pencarian terhadap tiga pendaki asal Bandung, Jawa Barat, yang hilang di Gunung Agung beberapa tahun lalu.

Dari ketiga pencinta alam yang mendaki caat cuaca buruk itu, hanya seorang di antaranya yang berhasil ditemukan telah menjadi mayat.

Yakni korban Mohamad Iqbal (22), sedang dua lainnya, Eko Saputro Sudirman (21) dan Yunita Indah Safitri (21), hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Dia menduga, pendaki yang anggota Mapala STIE Bandung itu hilang di Gunung Agung setelah terperosok masuk ke dalam jurang yang dalam.

"Cukup banyak pendaki yang terperosok kemudian tak diketemukan jasadnya di kawasan Gunung Agung. Mereka yang demikian umumnya pelancong yang mendaki tanpa dikawal pemandu," ucapnya.

Mengingat itu, Sudarsana mengimbau para pelancong untuk sementara dapat mengurungkan niatnya mendaki gunung yang bercokol di Kabupaten Karangasem itu.

"Kalau saja mau mendaki, hendaknya dalam pengawalan petugas pemandu yang sudah sangat terbiasa naik-turun di lintasan Gunung Agung," katanya.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026