Yogyakarta (Antara Bali) - Mentalitas "nrabas" atau mencari jalan pintas untuk mendapatkan hasil tanpa bekerja keras sesuai norma dan aturan yang berlaku menjadi penyebab korupsi, kolusi, dan nepotisme, kata seorang akademisi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

"Mentalitas 'nrabas' itu hingga kini masih mewarnai pemerintahan dan kehidupan sosial politik masyarakat," kata Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Prof Dr Sjafri Sairin dalam pemikirannya yang dibacakan kandidat doktor Nugroho Trisnu Brata di Yogyakarta, Rabu.

Pada diskusi pemikiran kebudayaan Prof Sjafri Sairin di Pusat Studi Kebudayaan (PSK) UGM, ia mengatakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan mereka rela menempuh jalur-jalur tidak resmi dan terkadang bersifat ilegal.

"Mentalitas itu ditemukan pada fenomena penerimaan pegawai negeri atau swasta, penerimaan mahasiswa dan siswa baru, dan bekerja berorientasi menumpuk harta sebanyak-banyaknya," katanya.

Ia mengatakan mentalitas "nrabas" bisa menjadi "starting point" terjadi korupsi, kolusi, dan suap. Mentalitas "nrabas" itu mengindikasikan masyarakat belum sepenuhnya meningggalkan pola kehidupan lama dan belum sepenuhnya memasuki pola kehidupan budaya baru.

"Mereka tidak memiliki rujukan budaya yang jelas sehingga sangat mudah dipengaruhi dan diprovokasi," katanya. (LHS/T007)


Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026