Denpasar (Antara Bali) - Masuknya produk China menyusul pemberlakuan kawasan perdagangan bebas "ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)belum memberikan pengaruh bisnis perbankan, khususnya pada BNI wilayah kerja Denpasar yang meliputi Bali dan Nusa Tenggara.

"Baik penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran kredit tetap berjalan normal. Ini bisa diartikan usaha yang dijalankan nasabah yang sebagian besar pengusaha kecil-mikro, sejauh ini tak terpengaruh," kata Kepala Ahli Ekonomi Regional BNI Kanwil 08 Denpasar I Wayan Ramantha, Senin.

I Wayan Ramantha  berharap bisnis yang dijalankan nasabah kalangan usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM), yang di Bali banyak menggeluti sektor perdagangan, produsen kerajinan dan industri jasa pariwisata, dapat menyesuaikan di tengah serbuan produk-produk China.

Ramantha mengingatkan, bahwa Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional, sehingga sudah pasti menjadi salah satu sasaran utama masuknya produk-produk China dan asal  negara lain ke Indonesia.

Oleh karena itu, para pengusaha harus melakukan antisipasi dengan menyesuaikan usaha yang dijalankannya, baik dari segi kualitas produk, daya saing yang kompetitif, maupun jenis produk dan corak atau desain yang diminati pasar.

"Jangan sampai kita nantinya dibuat terkejut oleh masuknya produk-produk sejenis yang lebih murah dan mampu memikat pasar. Sejak dini kita antisipasi dengan terus membaca kondisi pasar," pesannya.

Diingatkan bahwa ekonomi Bali bertumpu pada sektor pariwisata, yang 70 persennya digerakkan oleh sektor tersier, terutama bidang usaha perdagangan, hotel dan restoran (PHR), disusul pertanian 20 persen dan lainnya 10 persen.

"Perekonomian kita bergerak seiring tumbuhnya sektor pariwisata. Keberadaan UMKM menjadi tumpuan perbankan terkait penyaluran kredit maupun penghimpunan dana," tambah Ramaantha.

Pemimpin BNI Kantor Wilayah 08 Denpasar Suhendry Hafni sebelumnya menjelaskan, selama 2009 pihaknya menyalurkan kredit sebesar Rp2,5 triliun, sedangkan penghimpunan dana mencapai Rp7 triliun.

Kredit tersebut seluruhnya disalurkan kepada UMKM yang didominasi sektor usaha terkait pariwisata. Kredit untuk usaha menengah berkisar Rp10 miliar - Rp15 miliar dan usaha kecil sampai Rp10 miliar.

Sedangkan kredit untuk usaha mikro disalurkan melalui 70 BPR dan 15 koperasi yang memiliki akses untuk menjangkau sektor tersebut.

"Kami melakukan strategi ini karena terbentur keterbatasan akses," ujar Hendry, sapaan Suhendry Hafni.

Pemimpin Sentra Kredit Kecil BNI Denpasar, Eben Eser Nainggolan menambahkan, total kredit yang disalurkan pihaknya di Bali sekitar Rp1,5 triliun, yang 80 persennya kategori mikro dan kecil, sisanya kredit menengah.

Dalam melayani UMKM, BNI memiliki sejumlah Sentra Kredit Kecil (SKC) yang melayani pinjaman produktif, Sentra Kredit Konsumer (SKK) seperti untuk pemilikan rumah dan kredit tanpa agunan.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026