Kuta (Antara Bali) - Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan pelayanan pemberian visa di dalam pesawat terbang (visa on board) diharapkan bisa meningkatkan kepuasan dan kesan baik bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia.

Hal itu dikatakan Satar setelah mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali, Kamis, dalam penerbangan GA-881 memakai Airbus A-330-300 yang mengangkut 42 pelanggan kelas bisnis dan 215 kelas ekonomi dari Bandar Udara Narita, Tokyo.

Dalam penerbangan itu, turut serta Duta Besar Indonesia untuk Jepang Anwar Jusuf, Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Muhammad Indra, dan Direktur Operasi Bank BNI Bien Subiantoro.

Selain mereka, masih ada sejumlah pejabat yang berkepentingan dengan penerapan kembali pemberian visa di dalam pesawat terbang itu.

Menurut Satar, dalam persaingan global saat ini yang semakin ketat, berbagai upaya harus dilakukan untuk bisa menjadi pemenang.

"Layanan ini jelas akan bisa mempersingkat waktu pengurusan keimigrasian bagi para pelancong," katanya.

Ia mengatakan Jepang bagi pihak Garuda dan instansi lain dipilih sebagai rute pertama pelayanan visa ini karena tingkat kunjungan warganya ke Indonesia menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

Hingga saat ini Garuda Indonesia menerbangi rute Ngurah Rai -Narita, Tokyo, sekali sehari. Penerbangan dari dan ke negara itu bertambah banyak karena kota Nagoya juga menjadi kota tujuan yang cukup menjanjikan dari sisi bisnis penerbangan.

Menurut dia, layanan tersebut akan diterapkan secara penuh dalam tiap penerbangan Garuda Indonesia dari Jepang pada 1 Februari mendatang.

Ia mengatakan untuk tahap awal, langkah uji coba dilakukan Kamis (21/1), dan akan diulangi lagi dalam penerbangan GA-881 pada 26 Januari mendatang, juga dari Narita.

"Hal ini sesuai dengan program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Kami akan jajaki kemungkinan hal serupa dilakukan dari China, Taiwan, Korea Selatan, dan beberapa rute internasional lain," katanya.

Khusus untuk Eropa, kata dia, Garuda baru akan melayani jalur itu pada Juni nanti, dan diharapkan semuanya bisa berjalan lancar.

Selain Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di Bali, tidak tertutup kemungkinan bandar udara tujuan di Indonesia lainnya juga bisa menjadi tempat pemberian pelayanan keimigrasian tersebut

Menanggapi hal itu, Indra menyatakan kesanggupan pihak Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk memberi layanan "visa on board".

Sejauh ini, menurut dia, pengerahan personel untuk keperluan tersebut telah diperhitungkan secara cermat.

"Memang banyak suara yang menyatakan ketidakpuasan atas layanan pemberian visa di beberapa bandar udara. Terus terang, kami sedang mengkaji jumlah dan keperluan petugas yang seharusnya ada untuk menjawab keluhan itu. Kami sangat serius dalam hal ini," katanya.

Ia mengatakan, di terminal kedatangan internasional, sering kali para wisman harus berdiri lebih dari satu jam agar paspornya bisa distempel visa.

Hal ini, kata dia, bagi kebanyakan wiman sangat menjengkelkan, apalagi setelah mereka menempuh penerbangan hingga belasan jam dari negara asalnya.

Ia menyebutkan sampai sekarang rute penerbangan internasional paling jauh yang dilayani di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali adalah dari dan menuju Amsterdam oleh maskapai penerbangan Kerajaan Belanda, KLM.

Penerbangan tersebut ditempuh dalam waktu hingga 12 jam penerbangan.

Sementara itu Anwar Jusuf yang juga mengikuti penerbangan tersebut menyebutkan Jepang bisa dikatakan teman setia dalam suka dan duka.

"Bukti sejarah telah banyak menunjukkan hal itu. Banyak sekali warga negara Jepang yang sangat ingin ke Indonesia, dan kita harus menyambut animo yang tinggi tersebut. Layanan kali ini merupakan hal yang sangat baik," katanya.(*)


Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026