Denpasar (ANTARA) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Lima, Peru, menggelar sejumlah kegiatan yang bertujuan untuk mempromosikan kearifan lokal Indonesia dan Peru dalam memperingati dua abad Kemerdekaan (Bicentenario) Peru dan 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Peru dan Bolivia, Marina Estella Anwar Bey dalam keterangan persnya diterima di Denpasar, Senin, mengatakan hubungan diplomatik Indonesia dan Peru sudah berlangsung selama lebih dari 40 tahun.

Oleh karenanya, ujar Marina, penting untuk saling mengenal dan menghargai budaya masing-masing negara. Salah satunya melalui webinar yang digelar bersama Campaign.com pada Kamis (16/12) bertajuk "Mainstreaming Diversity: Preserving Local Wisdom of Indonesia and Peru (Mengarusutamakan Keragaman: Melestarikan Kearifan Lokal Indonesia dan Peru)". 

Webinar tersebut dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Peru dan Bolivia, Marina Estella Anwar Bey dengan menghadirkan dua pembicara yakni Andres Valladolid dari Komisi Nasional untuk Perlindungan Akses ke Keanekaragaman Hayati Peru dan Pengetahuan Kolektif Masyarakat Adat dan Antonius Yudi Triantoro sebagai Direktur Perdagangan, Perindustrian, Komoditas dan Kekayaan Intelektual, Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Baca juga: Indonesia promosikan Bali di Venezuela

Webinar yang juga disiarkan langsung di kanal YouTube Campaign.com dan Facebook KBRI Lima ini menggambarkan bagaimana Indonesia dan Peru adalah rumah bagi berbagai kelompok etnis yang berkontribusi pada kayanya keragaman budaya di kedua negara ini. 

Berbagai kelompok etnis ini memiliki banyak pengetahuan tradisional serta kearifan lokal yang merupakan bagian dari cara hidup mereka dan penting untuk dilestarikan. 

Selain itu, kata Marina, perlu melakukan kegiatan yang menguntungkan bagi hubungan dua negara termasuk saling tukar informasi tentang upaya pelestarian budaya lokal.

Andres Valladolid sebagai pembicara juga memaparkan pentingnya melestarikan warisan alam dan budaya yang dimiliki sebuah negara. Di Peru keanekaragaman hayati dan pengetahuan tradisional dianggap sangat penting dan dihargai, sehingga dilindungi secara sistematis.
 
"Kami memiliki komisi nasional yang didedikasikan untuk isu tersebut, terdiri dari perwakilan dari 13 institusi yang ada di Peru. Komisi ini bertugas mengembangkan tindakan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menghindari tindakan biopiracy dengan tujuan melindungi kepentingan negara Peru. Ada pula aturan hukum yang mengikat tentang hak paten dan hak cipta," ujarnya.

Menurut Andres, permohonan dan pemberian hak paten sudah seharusnya dilakukan dengan sederhana, tapi tetap mengutamakan ketelitian agar kekayaan sumber daya hayati dan kearifan lokal yang ada tercatat dengan lengkap. 

Bahkan, Komisi Nasional Anti-Biopiracy Peru juga telah bekerja untuk mengidentifikasi dan melacak permohonan paten yang diajukan atau diberikan di luar negeri yang terkait dengan sumber daya hayati atau kearifan lokal Peru.

"Perlu diketahui juga bahwa permohonan paten ini tidak dikenakan biaya sama sekali dan kami bekerja berdampingan dengan masyarakat adat," ujar Andres.

Baca juga: Karya desainer Indonesia tampil di pameran busana Qatar

Antonius Yudi Triantoro kemudian memaparkan hal serupa dari sudut pandang Indonesia. "Indonesia juga memiliki sistem untuk melindungi keanekaragaman tersebut. Usaha melindunginya dilakukan dengan dua klasifikasi, yaitu kekayaan intelektual dan budaya, serta warisan genetis dan biologis. Dari situ dilakukan berbagai program perlindungan, pelestarian, dan pengembangan supaya kekayaan alam dan budaya kita terjaga," ujarnya.

Serupa dengan pembicara sebelumnya, Antonius juga memaparkan tentang pentingnya pendataan. "Data nasional tentang kearifan lokal yang dimiliki ini berguna untuk mempromosikan dan mendapat pengakuan di ranah internasional, misalnya lewat status Warisan Budaya Tak Benda dari UNESCO," ujarnya. 

Meski begitu, mempromosikan budaya lokal kepada masyarakat dunia juga perlu diiringi dengan penumbuhan kesadaran dan pengetahuan tentang bedanya menghargai dan mengapropriasi.

"Kolaborasi antarnegara perlu dilakukan dengan tujuan mengedukasi satu sama lain tentang budaya yang dimiliki, seperti yang kita lakukan melalui webinar ini," ujar Antonius.

Selain webinar, kegiatan lain yang digelar KBRI Lima bersama Campaign.com ialah kampanye sosial #OurLocalWisdom melalui aplikasi Campaign #ForChange yang pada 2020 lalu meraih penghargaan "Best App for Good" dari Google Play Indonesia. 

Kampanye sosial ini bertujuan membangun kesadaran publik agar bangga dan mau berbagi informasi serta pengetahuan tentang budaya Indonesia dan Peru. 

Dalam kampanye ini, publik diajak menyelesaikan empat "challenge" di dalam aplikasi tersebut; mengunggah foto tentang tradisi lokal, foto kampung halaman dengan kearifan lokalnya, foto seorang sosok yang bisa diandalkan dalam memberi nasihat, dan swafoto dengan teks berupa kebijaksanaan pikiran atau nasihat untuk orang lain.
 
Para pembicara dalam webinar Mengarusutamakan Keragaman: Melestarikan Kearifan Lokal Indonesia dan Peru belum lama ini. ANTARA/istimewa.


Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor : Edy M Yakub

COPYRIGHT © ANTARA 2026