Denpasar (Antara Bali) -  Perlu ada terobosan untuk mengelola tanaman berkhasiat menjadi obat alternatif, kata Ketua Perhimpunan Pencinta Tanaman Kota Denpasar, Ny Selly Dharmawijaya Mantra di Denpasar, Kamis.

"Alam sesungguhnya telah menyediakan berbagai macam tanaman yang bisa dijadikan obat, namun karena kurang pengetahuan masyarakat sehingga jarang meramu menjadi obat alternatif," kata Ny Selly Mantra.

Di sela pelatihan  tanaman obat keluarga (TOGA) itu, ia mengatakan, upaya meramu atau meracik obat dari tumbuhan sangat diperlukan, hal tersebut sebagai jalan keluar untuk tidak mengkonsumsi obat-obat kimiawi.

"Bahan obat sebenarnya tumbuh di sekitar kita, namun warga tidak mengetahui dan malas untuk mengelolanya, padahal manfaatnya tidak kalah mujarabnya dengan obat kimiawi," katanya.

Apalagi, kata dia, obat-obatan produksi pabrik harganya terus meningkat. Maka dari itu warga harus  mencoba meramu obat-obatan herbal untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

"Kalau meminum obat-obatan dari tanaman yang diracik secara benar dan tepat, saya yakin khasiatnya sama dengan obat-obatan kimiawi. Karena obat kimiawi juga dihasilkan dari bahan tanaman obat yang ada di alam ini," kata Ny Selly Mantra.

Dengan adanya pelatihan itu, kata dia, akan diperkenalkan tanaman yang tumbuh di alam sekitar bisa dijadikan bahan obat.

Menurutnya, alam Indonesia yang kaya akan ragam hayati, menyediakan berbagai macam dan jenis tanaman yang bisa dijadikan obat.

Namun karena keterbatasan pemahaman dan keinginan masyarakat untuk mengenalnya, sehingga potensi keanekaragaman hayati ini terabaikan serta tidak dimanfaatkan secara optimal.

"Padahal jika kita mau memanfaatkan potensi ini, maka kita akan dapat memperoleh obat-obatan yang relatif murah, karena tanaman obat bisa ditanam dan dibudidayakan di pekarangan atau dalam bentuk pot," kata Ny Selly yang juga penghobi tanaman itu.

Ia berharap, warga masyarakat agar rajin menanam tanaman yang berkhasiat obat di pekarangan atau di pot, karena suatu saat memerlukan bisa segera dibuat dan dikonsumsi.

"Berdasarkan penelitian ahli tanaman obat, menyebutkan dampak samping yang negatif relatif kecil dibanding obat kimiawi," ujarnya.(*)
 



Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026