"Bagaimana orang tua di Bali mendukung anak-anaknya belajar tabuh dan tari Bali lewat sanggar maupun sekolah dalam kegiatan ekstra kurikuler," katanya di Denpasar, Kamis.
Pengelola Sanggar Selukat Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar, itu menilai, siswa begitu antusias mempelajari musik tradisional (gamelan) maupun tari Bali.
Namun pelajar menghadapi kendala yakni terbatasnya media informasi yang menunjang seperti buku, perpustakaan dan sumber daya manusia yang mempunyai pemikiran ke arah berkembangnya seni budaya, sebagai landasan kehidupan yang dinamis.
Kondisi itu menyebabkan pula para siswa dalam berbagai jenjang pendidikan hanya mengerti tentang cara-cara bermain gamelan dan kencendrungan lebih peduli pada hasil akhir.
Dewa Alit menambahkan, kurangnya penyerapan nilai-nilai perjalanan sejarah yang berhubungan dengan perkembangan kesenian gamelan, akibat terbatasnya informasi mengenai hal tersebut.(*/M038/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.