Gianyar, Bali (ANTARA) -
Dalam siaran pers Diskominfo Gianyar, Minggu, Prof Ramantha mengungkapkan perputaran ekonomi yang besar ini terjadi mulai dari transaksi jual beli pada 36 gerai penjual bonsai, hingga penjualan bonsai kontes yang menyentuh angka lebih dari puluhan juta per pohon.
Baca juga: Bupati Gianyar buka pameran bonsai berskala nasional (22 April-2 Mei 2021)
"Di Gianyar sendiri, sudah banyak kolektor sekaligus pedagang bonsai. Bisnis bonsai di sini hampir ada di semua kecamatan di Gianyar. Mulai dari Sukawati sampai ke Tegallalang," katanya.
Ia meyakini jika bonsai ini terus ditekuni oleh masyarakat akan menjadi pertanian dan pariwisata baru di Gianyar karena mereka bisa memanfaatkan pekarangan untuk pohon bonsai dan bonsai sendiri adalah benda seni.
"Saya mengamati di Gianyar ada orang yang selama ini kehilangan pekerjaan, namun ia memiliki bonsai. Saat diam di rumah, mereka menjadi produktif, merawat bonsainya lebih intens dari sebelumnya. Lalu, bonsai itu dijual, tentu dengan harga yang tinggi. Akhirnya mereka berbisnis jual beli bonsai," ujarnya.
Ia mengatakan Dulu saat masa normal, bonsai adalah tanaman hias di kebun vila pribadi. Di tengah krisis pariwisata, ketika vila tidak laku, maka bonsai dijual dengan harga puluhan juta.
“Kami berharap ekonomi di Kabupaten Gianyar dan Bali segera pulih,” ujarnya.
