Denpasar (Antara Bali) - I Nyoman Sumatra (35), asal Desa Marga, Kabupaten Tabanan, setiap hari harus menempuh perjalanan sejauh 25 kilometer ke tempat kerjanya di sebuah hotel berbintang di Pantai Kuta, Kabupaten Badung.
Nyoman telah bekerja di hotel lebih dari sepuluh tahun, dan selama itu pula ia menggunakan sepeda motor untuk berangkat kerja. Ia merasa sepeda motor adalah moda yang paling mungkin digunakan. Ia butuh waktu selama sejam dari Tabanan ke Kuta.
Suami Ni Nyoman Resmini (32) itu adalah salah seorang dari puluhan ribu penduduk Bali yang bersepeda motor saat berangkat bekerja.
Jumlah sepeda motor setiap saat terus meningkat, bahkan dalam waktu lima tahun meningkat dua kali lipat, tutur Kepala Dinas Perhubungan dan Informatika Provinsi Bali I Made Santha.
Sepeda motor sebagai transportasi andalan di Pulau Dewata pada tahun 2006 hanya tercatat 1,36 juta unit meningkat menjadi 1,48 juta unit pada tahun berikutnya dan bertambah lagi menjadi 1,64 juta unit pada tahun 2008, tahun 2009 1,83 juta unit dan sekarang melonjak menjadi 2,04 juta unit.
Selain itu jalanan di bali juga disesaki kendaraan lain, seperti mobil penumpang 214.474 unit, mobil barang 88.174 unit, bus 7.003 unit, dan kendaraan khusus antara lain mobil tangki 428 unit.
Mobil pribadi dan sepeda motor adalah pemicu utama kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas Bali, akibat ruas jalan yang ada tidak sebanding dengan semakin meningkatnya pertumbuhan kendaraan pribadi.
Untuk mengantisipasi semakin parahnya kemacetan lalu lintas, Pemerintah Provinsi Bali, merintis transportasi umum di jalur dalam kawasan trans kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar dan Tabanan (Serbagita).
Transportasi umum untuk kawasan trans Serbagita itu mengoperasikan 15 unit bus angkutan massal bantuan dari Kementerian Perhubungan. Bus tersebut masing-masing berkapasitas 40 tempat duduk, tahap pertama menghubungkan empat dari sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata, tutur I Made Santha.
Dalam tahap ujicoba dan sosialisasi angkutan umum itu, belum begitu diminati masyarakat, meskipun ongkosnya hanya Rp3.500 per orang untuk jalur dekat dan jauh, sementara bagi pelajar dan mahasiswa mendapat keringanan dengan tarif Rp2.500 per orang.
Bus Trans Sarbagita yang berukuran besar dengan kapasitas 40 tempat duduk tahap pertama baru melayani jalur-jalur utama antara lain di kawasan By Pass Ngurah Rai, sementara jalur yang masuk ke tengah kota dilayani bus berukuran sedang.
Selama lima hari beroperasi, bus itu belum begitu banyak dimanfaatkan warga masyarakat, meskipun ke-15 armada tersebut keberangkatannya sudah diatur sedemikian rupa setiap 15 menit sehingga menjamin penumpang sampai di tempat tujuan tepat waktu.
Evaluasi
Wakil Ketua Komisi II DPRD Bali Wayan Disel Astawa meminta Pemprov, Dinas Perhubungan dan Informatika setempat untuk melakukan evaluasi terhadap pengoperasian angkutan umum Trans Sarbagita, yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat.
Evaluasi pengoperasian transportasi publik harus segera dilakukan untuk lebih mematangkan angkutan massal tersebut ke depan. Kegiatan itu selain untuk mengetahui tingkat animo warga masyarakat menggunakan trans Sarbagita, juga mengenai penempatan halte-halte di sepanjang "by pass" Ngurah Rai.
Keberadaan halte, tempat naik-turunya penumpang juga perlu dikaji, karena tidak semua halte tempatnya stategis, bahkan lebih runyam lagi baru operasi hari operasi justru membuat tambah macet jalan-jalan yang dilalui bus besar tersebut.
Oleh sebab itu menurut Disel Astawa keberadaan transportasi publik yang disediakan pemerintah itu mampu memberi solusi kemacetan, yang selama ini warga lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi, seperti sepeda motor dan kendaraan roda empat.
Hal itu penting karena selama ini angkutan umum di Denpasar dan sekitarnya sangat jarang, sehingga masyarakat bepergian menggunakan kendaraan pribadi.
Menanggapi hal itu Kadishub Bali I Made Santha menjamin operasional bus trans Sarbagita tidak akan menambah kemacetan di kawasan perkotaan yang dikhawatirkan masyarakat.
Bus trans sarbagita hanya untuk jalur-jalur utama di kawasan By Pass Ngurah Rai dari kawasan Tohati-Sanur-Kuta-Nusa Dua, sementara jalun yang masuk ke tengah kota dilayani bus ukuran sedang berkapasitas 20 tempat duduk.
Oleh sebab itu masyarakat sesungguhnya tidak perlu khawatir, demikian pula para sopir bemo dalam kota tidak perlu resah karena kehilangan calon penumpang. "Bemo atau angkutan kota yang ada sekarang akan tetap digunakan sebagai trayek pengumpan, cabang, dan ranting yang melayani perjalanan awal penumpang sebelum sampai di jalur utama yang dilalui bus.
Ada dan tidak ada penumpang para sopir akan dibayar penuh, sehingga Trans Sarbagita dapat memberikan segmen penghasilan yang lebih jelas kepada para sopir bemo. Bukan seperti saat ini sopir bemo kerap mendapatkan hasil yang tidak pasti, tutur Made Santha.
Pengamat transportasi dari Universitas Udayana Ir Putu Preantjaya Winaya MT menambahkan, ojek dapat digunakan sebagai angkutan alternatif untuk mengisi jalur pengumpan dalam layanan bus Trans Sarbagita.
Kehadiran ojek dengan menggunakan sepeda motor itu penting, mengingat bus Trans Sarbagita hanya melayani koridor dari Terminal Batubulan, Kabupaten Gianyar sampai kawasan Nusa Dua, Kabupaten Badung.
Sedangkan jalur pengumpan pra dan pascaperjalanan bus belum dikelola dengan baik. Jika hanya mengandalkan angkutan umum yang sudah ada untuk mengisi jalur pengumpan, itu tidak cukup memadai, selain jumlahnya terbatas, angkot juga tidak sampai masuk ke kawasan dalam desa.
Melihat bus Trans Sarbagita yang beroperasi beberapa hari ini, namun masih sepi penumpang, itu menunjukkan pengelolaan masih sepotong-sepotong. Seharusnya jalur pengumpan lebih dulu disiapkan dengan baik baru mengoperasikan bus yang menghubungkan antarkoridor.
Jika jalur pengumpang belum optimal, tetap saja masyarakat akan menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian jarak jauh.
Keberadaan bus Trans Sarbagita yang diharapkan nanti menghubungkan Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan, bisa dipandang menjadi sumber kemacetan baru, tutur utu Preantjaya Winaya.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.