Denpasar (Antara Bali) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginginkan semua SMA/SMK di daerah itu dapat menerapkan sistem pembelajaran berbasis elektronik (e-learning) dengan mengadopsi teknologi, informasi, dan komunikasi mulai awal 2018.

"Saya harapkan ini jadi warisan saya, saya kasih waktu sampai Desember untuk berunding dan belajar. Januari (2018) kita mulai," kata Pastika dalam acara sosialisasi penggunakan teknologi informasi dan komunikasi kepada para Kepala SMA/SMK se-Bali, di Denpasar, Jumat.

Menurut dia, jika sekolah tetap mempertahankan sistem pembelajaran di sekolah dengan sistem konvesional, siswa bisa mengalami frustasi karena sekarang eranya sudah era digital.

"Di sekolah-sekolah selama ini masih menggunakan sistem yang lama, gurunya sudah tua, dan cenderung tidak berani keluar dari sistem yang ada. Hal ini jika dibiarkan terus-menerus akan menjadi masalah karena siswa menjadi tidak siap menghadapi masa depan," ucapnya.

Oleh karena itu, lanjut Pastika, diperlukan adanya revolusi di bidang pendidikan dengan mengadopsi penggunaan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) yang lebih maksimal, seperti halnya sistem pembelajaran yang sudah diterapkan di SMAN Bali Mandara.

"Tidak ada alasan untuk tidak bisa, dari sisi anggaran saya kira cukup, bahkan jika sudah dilaksanakan akan dapat menghemat angggaran," katanya.

Pihaknya mengharuskan semua SMA/SMK negeri untuk mengikuti rencana tersebut, karena SMA/SMK kewenangan pengelolaannya sudah di bawah pemerintah provinsi.

Bahkan Pastika meminta jika ada sekolah yang stafnya atau PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) yang tidak bisa mendukung penerapan e-learning tersebut agar diputuskan saja kontraknya hingga akhir Desember 2017, dan diganti dengan mereka yang memiliki kemampuan.

"Saya minta mulai hari ini mari kita bangkit, jika tidak ada yang mampu segera bikin kontrak baru, cari guru baru. Yang tidak mampu akhir tahun ini kita berhentikan," ucapnya.

Pastika juga meminta dilakukan evaluasi terhadap alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah yang sebelumnya digunakan untuk pembelian buku menjadi pembelian WIFI untuk mendukung pembelajaran berbasis elektronik.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud Gogot Suharwoto mengatakan selama ini mayoritas guru belum memanfaatkan TIK karena merasa kurang percaya diri dan ada juga yang belum mampu mengoperasikan.

"Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mengintegrasikan TIK, karena dari sisi infrastruktur sesungguhnya tidak ada masalah, di tengah penggunanaan internet yang cukup tinggi," katanya.

Menurut dia, dengan penggunaan TIK dalam proses pembelajaran minimal telah memberikan peluang yang sama kepada para siswa dimanapun berada untuk menempuh pendidikan.

"Selain itu, dengan penggunaan teknologi, fakta-fakta juga bisa dihadirkan di depan siswa terhadap hal-hal yang sulit dijangkau misalnya untuk menunjukkan dan menampilkan letak kutub, maupun gurun pasir di Afrika," ucap Gogot. (WDY)


Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026