Kepala Dinas Pertanian Pemrop Bali Putra Suryawan saat mengecek ke lokasi penemuan ulat bulu di Bangli, Minggu mengatakan, pihaknya juga menemukan hama tersebut di tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Bangklet, Bangli.
"Dari sembilan kota dan kabupaten di Bali kini sudah ada delapan kabupaten dan kota yang terjangkit dan satu-satunya kabupaten yang belum ada laporan adalah Badung," katanya.
Ia mengatakan, petugas sudah langsung melakukan penyemprotan ulat bulu ini agar tidak bertambah banyak. Pihaknya juga bekerja sama dengan Universitas Udayana untuk mengecek keberadaan ulat ini.
Menurut dia, dari 10 jenis ulat bulu yang ditemukan di Bali, baru satu jenis yang telah teridenfikasi oleh tim ahli, yakni jenis Dimantri D.
Suryawan yang didampingi Kadis Pertanian, Perkebunan dan Perhutanan Bangli I Wayan Sukartana mengatakan penyemprotan dengan pestisida merupakan cara terakhir yang akan dilakukan, bila penanggulangan dengan menggunakan predator alami tidak bisa berjalan.
Sementara pantauan di lapangan menunjukkan, ulat bulu yang menyerang pohon di SMA N I Susut, jenisnya hampir mirip dengan ulat bulu yang biasanya menyerang di pohon jempinis (kayu pinus).
Ia mengatakan, ulat ini pada umumnya berkerumun pada batang lantas menyerang daun tanaman. Sementara, beberapa ulat juga mulai menyebar ke sejumlah tanaman lainnya.
Untuk yang di TPA Bangli, menurut Suryawan, jenisnya sedikit aneh dengan bulu dominan warna putih, sementara pada bagian kepala terdapat dua antena (mirip tanduk). Namun di lokasi TPA ini jumlah ulat lebih sedikit.
Ia mengakui bahwa keberadaan ulat itu mengundang kecemasan para warga. Namun ia meminta agar masyarakat tidak panik menghadapi kenyataan ini.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.