Denpasar (Antara Bali) - Sekretaris Kota Denpasar AAN Rai Iswara mengatakan ibu kota Provinsi Bali menjadi daerah percontohan program kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP) di Tanah Air.

"Program yang diluncurkan Kementerian Dalam Negeri itu bukanlah hal baru karena sudah diperkenalkan sejak 2009, tetapi kemudian ditarik kembali karena harus diperbaiki supaya tidak terjadi permasalahan," katanya usai melakukan sosiasilasi pelaksanaan E-KTP di ruang Praja Utama Kantor Wali Kota Denpasar, Senin.

Dia mengatakan, untuk membuat pelaksanaannya mudah, maka data kependudukan harus dicocokkan dengan Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga tidak terjadi perbedaan data.

Penyesuaian data itu, tambahnya, supaya data kependudukan yang akan digunakan nantinya benar-benar valid dan minim kesalahan.

"Selain melakukan penyesuaian data, kami berharap, para perangkat desa bisa mengetahui kewajibannya dalam mendata penduduk, sehingga pendataan tersebut benar-benar akurat," ujarnya.

Dia menjelaskan, untuk memperoleh data yang akurat, perangkat/petugas desa harus bertindak aktif seiring dengan perubahan jumlah penduduk yang cukup tinggi.

Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Denpasar AA Isteri Agung mengatakan, program E-KTP sudah diterapkan sejak dua tahun lalu, namun masih cukup banyak kendala yang ditimbulkan, seperti tanda tangan dan sidik jari pemegang KTP tersebut yang tidak tampak.

"Saat ini kendala itu sudah bisa diatasi, sehingga tidak ada masalah lagi dalam pengurusan administrasi. Selain itu, E-KTP dilengkapi 'single identity number' (SIN) yang membuat tidak ada pemilik kartu identitas ganda," katanya.

Dia menjelaskan, pelaksanaan program tersebut sudah berjalan dalam beberapa tahapan, mulai dari pemutahiran data hingga sosialisasi.

Sekarang memasuki tahap persiapan perangkat keras dan lunak, yang peralatannya sudah disediakan dari pusat sebelum diberlakukan di seluruh Denpasar mulai Mei 2011.

"Setelah tahapan penyiapan peralatan, kami akan memberikan bimbingan teknis tentang pengoperasiannya kepada para petugas di kecamatan," ujarnya.

Agung mengungkapkan, berdasarkan hasil pemutahiran data sampai Februari 2011, tercatat jumlah penduduk di ibu kota provinsi tujuan wisata itu sebanyak 621.244 jiwa. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026