"Saya sering menerima keluhan dari tamu asing karena jalan rusak. Perjalanan menjadi sangat tidak nyaman karena jalan penuh lubang dan sana sini bolong," katanya di Singaraja, Selasa.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menyebabkan para pengendara kendaraan roda empat harus sangat ektra hati-hati saat membawa tamu melewati jalur yang terkenal curam dan tajam tersebut.
Keadaan itu, kata Dharmawan diperparah dengan banyaknya tikungan, utamanya di wilayah jalan menurun Desa Gitgit menuju arah Kota Singaraja. Sangat tidak nyaman, menyebabkan tamu kadang muntah-muntah.
"Mungkin bukan hanya keluhan saya saja, tetapi juga banyak praktisi pariwisata lain yang bergerak di bidang biro perjalanan wisata. Kami berfikir panjang kalau bawa tamu harus lewat Gitgit," terangnya.
Ia berpendapat, keadaan tersebut semestinya mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah pusat dan daerah, utamanya yang membidangi jalan nasional di Bali. Jangan sampai keadaan itu menyebabkan preseden buruk perkembangan sektor pariwisata Bali yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian.
Pemerintah, kata dia, segera mungkin melakukan perbaikan dan pelebaran jalan di beberapa titik penting. Jalan rusak dan tikungan tajam bukan hanya berpengaruh pada ketidaknyamanan semata, tetapi juga musibah yakni kecelakaan.
"Saya mengamati jalur Gitgit ini merupakan jalur tengkorak karena sering terjadi kecelakaan akibat jalan curam dan berliku-liku. Hal tersebut semestinya menjadi perhatian penuh dari pemangku kebijakan yang ada," tambahnya.
Selain itu, pihaknya berharap wacana membuat jalan pintas atau shortcut segera direaliasikan dan hanya bukan sekedar janji semata. "Jika Buleleng ingin maju dan sejajar dengan Bali Selatan semestinya wacana shortcut harus direalisasikan segera," harapnya. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Made Bagus Andi Purnomo: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026