Denpasar (Antara Bali) - Pengusaha Bali memerlukan mutiara, batu permata dan logam mulia dari luar negeri sebagai bahan baku pembuatan aneka jenis perhiasan yang dipadukan dengan rancang bangun kearifan lokal yang hasilnya kemudian diekspor.

"Kami mengimpor permata dan setelah diolah kembali diekspor, tentu dengan nilai yang jauh lebih tinggi," kata Made Muliarta, seorang eksportir aneka jenis perhiasan di Denpasar, Rabu.

Permata yang dibeli oleh pengusaha di Bali umumnya didatangkan dari Asia, seperti Thailand, Tiongkok, bahkan ada yang dari Eropa, di samping dipenuhi dari permata produksi dalam negeri asal Kalimantan dan Sumatera.

Sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, nilai impor perhiasan permata dari pengusaha di daerah itu sebesar 2,2 juta dolar AS selama Juli 2014, naik hingga 389 persen jika dibandingkan periode bulan sebelumnya yang hanya 459 ribu dolar.

Besarnya nilai impor tersebut cukup masuk akal, kata Made Muliarta, sebab tidak saja wisatawan asing yang senang dengan perhiasan yang diisi permata dan logam mulia, pelancong nusantara juga banyak mengoleksi aksesori dengan permata yang dibubuhi batu permata yang sebagian orang memercayai memiliki kasiat tertentu.

Permata dan batu mulia yang diperlukan perajin Bali khususnya pengusaha perak jauh lebih banyak dari pada realisasi impor, karena dibeli dari produksi dalam negeri dengan mutu yang tidak kalah dari impor, tutur Made Muliarta.

Ia mengatakan, perajin perhiasan perak Bali yang umumnya berada di Desa Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar, mampu memenuhi selera konsumen luar negeri, sehingga realisasi ekspornya naik terus, baik perolehan devisa maupun volumennya.

Realisasi ekspor aneka ragam perhiasan perak yang dipadukan dengan emas dilengkapi dengan permata terbanyak dikirim ke konsumen di empat negara, yakni Singapura dan Hong Kong, Jepang dan AS. (ADT)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika

Editor : I Nyoman Aditya T I


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014