Negara (Antara Bali) - Puluhan hektare sawah di Desa Melaya, Kabupaten Jembrana terganggu proyek irigasi, yang menyebabkan suplai air tersendat, sehingga banyak padi yang mati.

"Di wilayah ini ada 36 hektare tanaman padi, akibat kekurangan air 80 persen diantaranya mati. Memang ada miskomunikasi terkait perbaikan saluran irigasi," kata Kelian Subak atau Ketua Irigasi, Manusari Gilir, Desa Melaya, Wayan Sudarma, Senin.

Menurutnya, proyek irigasi yang menghambat aliran air ke sawah tersebut, seharusnya dikerjakan saat padi menjelang panen, bukan pada masa awal tanam seperti saat ini.

Ia mengungkapkan, petani hanya bisa mendapatkan air saat malam hari, namun juga tidak mencukupi seluruhnya, karena sumber air di bendungan atau DAM setempat juga berkurang akibat musim kemarau.

"Kami sudah mengajukan proposal perbaikan DAM ke Pemkab Jembrana maupun Pemerintah Provinsi Bali. DAM tersebut harus dikeruk, agar mampu menampung lebih banyak air saat musim hujan," ujarnya.

Sebagai kelian subak, ia mengaku, tanaman padi miliknya juga banyak yang mati karena kekurangan air.(GBI)

Pewarta: Oleh Gembong Ismadi

Editor : Gembong Ismadi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014