Umat Muslim di Bali yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengenalkan tradisi ngejot atau berbagi ke tetangga tanpa memandang agama saat perayaan Idul Adha kepada generasi muda atau gen Z.
“Dalam rangka untuk regenerasi kami dari LDII melibatkan anak muda, apalagi anak sekarang gen Z cerdas-cerdas, kami mulai dari kepanitiaan kecil,” kata Wakil Ketua LDII Bali Haji Hardilan di Denpasar, Rabu.
LDII Bali menunjuk anak muda mulai dari usia 14 tahun terlibat dalam kegiatan Idul Adha dari kegiatan shalat, penyembelihan hewan kurban, hingga pembagian daging kurban ke sesama umat maupun lintas agama ke warga di sekitar masjid atau yang dikenal tradisi Ngejot.
“Anak muda ini termasuk kami beri posisi tidak populer seperti pembersihan jeroan sapi, tapi mereka semangat, kami juga ajarkan meneruskan tradisi Ngejot yang sudah sejak zaman nenek moyang kita, dengan begini maka regenerasi tidak susah,” ujarnya.
Hardilan menyampaikan tradisi ini diwariskan sejak mereka remaja agar ke depan tidak sulit lagi bagi LDII Bali mencari kader terbaik untuk mengurus lembaga.
Inisiatif ini lahir setelah ia melihat sulitnya mencari pengganti kepengurusan terutama posisi ketua, semua yang secara tiba-tiba ditunjuk selalu merasa tidak siap, sehingga dengan dibekali kegiatan sekecil apapun mereka akan terbiasa.
Hardilan melihat anak muda usia SMP, SMA, dan kuliah tersebut justru menunjukkan kemampuannya dalam berorganisasi, menandakan bahwa yang diperlukan generasi penerus adalah kesempatan pengalaman dan ajaran-ajaran positif.
Dalam perayaan Idul Adha 2026 ini sendiri LDII Bali berhasil mengumpulkan 145 ekor sapi dan 270 ekor kambing tersebar di seluruh Bali, dimana jumlah tersebut naik 18 persen dari tahun sebelumnya.
Daging kurban yang sebelumnya sudah dicek kesehatan dan keamanannya pun kemudian dikemas menjadi paket-paket untuk dibagikan. Tahun ini berhasil mengemas ke dalam 10 ribu paket termasuk di dalamnya untuk Ngejot ke tetangga.
Hardilan menegaskan bahwa hidup rukun antar-umat sudah menjadi keseharian warga LDII Bali, bahkan untuk mendukung lokal mereka memberi seluruh hewan kurban di peternak lokal Bali.
“Ini kami ambil seperti di Gianyar dan Pupuan, sudah ada pasarnya, jelas harus mengutamakan saudara terdekat apalagi sapi Bali ini dagingnya enak bagus bahkan dari Jawa pun beli di Bali banyak,” ujarnya.
Diberikan pengalaman dan ilmu oleh tetua, salah satu anak muda LDII bernama Rhuziq mengatakan tidak terbebani atas tugas-tugas di hari Idul Adha ini.
Ia justru menjadi lebih paham alur saat kegiatan dan terlibat langsung dalam proses Ngejot ke rumah-rumah umat non-Muslim.
“Kami sebagai generasi muda yang akan menggantikan bapak-bapak kami jelas niat baik ini seperti berbagi akan kami laksanakan terus, ini semua dilibatkan jadi kami tahu prosesi dari awal menyembelih,” kata dia.
Salah satu umat Hindu yang mendapat paket kurban bernama Endang menuturkan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak lama.
Bahkan kebaikan satu sama lain tidak hanya saat Idul Adha melainkan hari-hari biasa, sehingga ia meyakini hubungan ini akan terus berjalan hingga generasi-generasi berikutnya.
“Semuanya baik sekali disini, malah saya suka pinjam parkiran di depan masjid boleh saja, hubungan kami baik sekali sudah seperti keluarga,” ucapnya.
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026