Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengagumi ketekunan dan inovasi I Wayan Jegog (73) yang mampu menciptakan berbagai jenis mesin pengolahan dan alat kerajinan berbahan logam.

"Kemampuannya sudah lebih dari insinyur yang berpengalaman. Bayangkan mesin pengolahan apapun bisa dibikin untuk mempermudah pekerjaan manusia," kata Pastika saat mengadakan reses ke bengkel produksi I Wayan Jegog di Denpasar, Jumat.

Pastika didampingi staf ahli, Ketut Ngastawa dan Nyoman Baskara mengunjungi bengkel produksi Pande Djegog yang beralamat di Jalan Trenggana No 95 Penatih, Denpasar, Bali.



Di bengkel produksinya, Wayan Jegog bersama anak dan lima karyawannya setiap hari menempa besi maupun logam lainnya untuk menghasilkan aneka peralatan seperti pisau, sabit, parang, perlengkapan upacara, dan sebagainya.

Yang mengagumkan, Jegog juga membuat berbagai mesin pengolahan pertanian dan peternakan seperti mesin pemisah bunga cengkih, mesin kupas kulit kopi, mesin kompos, mesin pengiris buah coklat, mesin pengiris pandan, mesin pencacah kol, mesin pencampur pakan ternak dan sebagainya.

Slelain itu, ada mesin teknologi tepat guna, seperti mesin es serut, mesin blender bumbu atau daging, mesin gilingan wajah, mesin pengiris bawang, mesin parut kelapa dan sebagainya.

"Pendidikan formalnya tidak hebat (tamat SD), tetapi karena ketekunan, kesungguhan dan tahan banting dalam segala zaman serta berjuang terus, sehingga hasil produksinya luar biasa," ujar mantan Gubernur Bali dua periode itu.

Oleh karena itu, menurut dia, dilihat dari sisi keilmuan, I Wayan Jegog pantas diberi gelar profesor, karena benar-benar sudah mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dengan hasil produksi luar biasa.

Baca juga: Mangku Pastika ajak generasi muda Bali tidak apatis dalam Pemilu 2024

"Beliau ini seorang pande yang benar-benar hebat. Bayangkan sudah berapa banyak orang yang dididik dan juga tidak pelit menularkan kepandaian. Mereka yang sudah lulus dari sini (bengkel produksi) lalu membuka usaha sendiri," kata Pastika.

Meskipun bentuk mesinnya terlihat sederhana, ia mencontohkan untuk mesin mengiris bawang atau cabai hanya memakan waktu sekitar satu jam dapat diiris satu ton.

Dengan kemampuannya membuat mesin-mesin tersebut, bengkelnya kerap dikunjungi kalangan mahasiswa dan menjadi tempat magang siswa SMK.

"Awalnya saya membuat kerangka mesin dari kayu di tahun 1990-an. Kemudian, dibimbing dinas terkait, sehingga bisa seperti sekarang ini," ujarnya.

Jegog yang semasa mudanya sebagai petani, kemudian banting stir menjadi perajin, karena saat itu dihadapkan kondisi ekonomi yang sulit untuk biaya sekolah anak-anaknya, selain ketertarikannya pada kerajinan logam ini sudah sejak kecil.

Yang membanggakan, Jegog tidak pelit dengan keterampilan yang dimilikinya, sehingga tidak mengherankan banyak tenaga yang sebelumnya kerja di bengkelnya kini membuat usaha sejenis di sejumlah tempat.

Baca juga: Senator: Peternak perlu dicarikan solusi atasi harga jual babi dan pakannya

"Saya senang mereka mau mandiri dan saya selalu siap membantu bila ada masalah," ujarnya sembari mengatakan bahwa ia juga memberikan jasa servis mesin.

Made Sudani, putri I Wayan Jegog mengatakan untuk mendapatkan bahan baku sejauh ini tidak ada hambatan, bahkan dengan kualitas dan inovasi produk di bengkel produksinya tersebut, pasarnya tembus ke sejumlah daerah di luar Bali. Sedangkan untuk harga mesin yang dijual berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp5 juta.

"Permintaan mesin alat-alat rumah tangga dan untuk pertanian cukup tinggi. Menjelang hari raya pesanan meningkat. Kami memproduksi itu disesuaikan dengan permintaan konsumen," katanya.
 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2023