Negara (Antara Bali) - Sebanyak 25 petugas penyuluh pertanian Kabupaten Jembrana, mendapatkan pelatihan dari BMKG melalui Stasiun Klimatologi, Negara terkait dengan perubahan iklim dan dampaknya bagi pertanian.

"Dengan mengetahui pola dasar perubahan iklim, penyuluh pertanian dapat memberikan pembinaan kepada petani untuk menanam bibit yang tepat sesuai iklim," kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Negara, Wakodim, Senin.

Kepala BMKG Pusat, Sri Woro B Harijono yang hadir dalam pelatihan ini mengatakan, pertemuan dengan penyuluh pertanian ini sangat penting karena perubahan iklim berjalan makin dinamis. "Tidak hanya dengan penyuluh, kami juga berencana untuk mengadakan pertemuan rutin dengan petani langsung, untuk mensosialisasikan penelitian kami tentang iklim dan dampaknya bagi pertanian," katanya.

Khusus untuk musim kemarau di Kabupaten Jembrana, BMKG memprediksi akan berakhir sekitar tanggal 10 Oktober mendatang, atau lebih cepat dibandingkan daerah lainnya.

Sementara Bupati Jembrana, I Putu Artha mengakui, kendala terberat yang dihadapi petani saat ini adalah perubahan cuaca yang mendadak dan tidak menentu. "Perubahan cuaca yang mendadak ini kerap menjadi faktor utama gagal panen bagi petani, dengan mengetahui dasar-dasar perubahan iklim, saya harapkan gagal panen tersebut bisa diminimalisir," katanya.

Dengan melibatkan BMKG untuk menentukan masa tanam berikut jenis bibitnya, Artha berharap, masyarakat petani tidak perlu repot-repot lagi menggunakan cara tradisional untuk menentukan musim.(GBI/IGT/T007)

Pewarta:

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2012