Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar di Denpasar, sedangkan untuk Singaraja penyumbang deflasi terbesar yaitu dari cabai rawit.

"Jadi penyumbang deflasi 10 terbesar di Denpasar itu ada bawang merah, daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, celana panjang jeans, setelan baju anak, tarif angkutan udara, pembalut wanita, popok bayi dan buah pir," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Selasa.

Sedangkan untuk penyumbang deflasi terbesar di Singaraja, ada cabe rawit, daging ayam ras, pisang, bawang merah, bawang putih, tauge atau kecambah, tomat sayur, cabai merah, minyak goreng dan kacang panjang.

"Jadi memang pemicu yang sekarang, kebetulan dalam catatan kami pemicu utamanya adalah dari kelompok bahan makanan," ucapnya.

Adi menjelaskan bahwa deflasi di Denpasar sebesar 0,52 persen dan Singaraja 0,87 persen untuk bulan September 2019. Angka itu mengisyaratkan bahwa sepanjang tahun 2019 Januari sampai September di Denpasar Baru terakumulasi inflasi sebesar 1,41 persen cukup jauh dari target nasional.

Baca juga: BPS : E-commerce kontribusi dua persen konsumsi rumah tangga

Sementara Singaraja 2,07 persen masih jauh, sekalipun lebih tinggi dari Denpasar.

Pemilihan survey di kota Denpasar dan Singaraja karena merupakan bagian dari wilayah yang dipilih untuk pengukuran inflasi secara nasional.

Ia mengatakan dalam rentang 9 bulan sampai dengan sepanjang tahun 2019, terjadi deflasi dua kali. Pertama terjadi di bulan Februari dengan besaran 0,43 untuk Denpasar kemudian kedua, diulang pada September ini dengan besaran 0,52 untuk Denpasar.

Sementara untuk Singaraja situasi juga kurang lebih sama, terjadi deflasi dua kali sepanjang tahun ini sampai dengan September. Pada bulan Februari pernah terjadi deflasi 0,34 dan berulang pada bulan September dengan deflasi 0,87, selebihnya inflasi.

Adi menjelaskan bahwa saat ini, kondisi perekonomian Bali masih terkendali, dilihat dari hasil pengukuran inflasi di Denpasar dan Singaraja.

"Kalau mengukur inflasi 12 bulan kebelakang, September ke September untuk Denpasar ada 2,44 persen, sementara Singaraja 2,99 persen kalau ini dirujuk sebagai target maka kita Bali masih pada situasi yang cukup jauh dari target karena targetnya tiga setengah plus minus satu, dan dua setengah sampai dengan empat setengah,"katanya.

"Denpasar baru 2,44, belum mencapai dua setengah, kalau Singaraja 2,99 dekat dengan 3 belum 3 setengah jadi kedua isyarat ini menunjukkan bahwa situasi kondisi perekonomian Bali yang dicerminkan dalam inflasi masih terkendali," lanjut Adi.

Baca juga: BPS: Amerika pangsa ekspor Bali terbesar

Pewarta: Ayu Khania Pranishita

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019